Selamat Datang! Anda adalah pengunjung ke - ようこそ! あなたは人目のお客様に:

2013-10-05

[Topik Khusus] Pekan Perkeretaapian Nasional (Bagian 1)

Pekan lalu merupakan pekan dengan suasana yang berbeda dengan biasanya, yang dimulai sejak 27 September di mana pada stasiun terminus Jakarta Kota yang setiap harinya dipadati oleh pengguna dengan kondisi stasiun yang biasa-biasa saja mendadak menjadi pusat perhatian, karena di jalur 3 yang dahulunya digunakan untuk perhentian akhir kereta api rel listrik (KRL) tujuan Tangerang dan Bekasi pada masa Divisi Jabodetabek dan sebelum penerapan sistem 6 rute terdapat 3 unit sarana spesial yang jarang sekali terlihat beroperasi di lintas mana pun juga.

Ketiga sarana tersebut adalah satu unit lokomotif listrik ESS 3201 buatan Werkspoor Amsterdam yang dioperasikan mulai 6 April 1925 bernomor produksi 547 (lihat juga tulisan ini) dengan sistem kelistrikan dan bodi yang diperbaharui sejak 29 Juli 2007 yang lalu sampai uji coba pengoperasian ulang perdana pada 18 Juli 2012, beserta pengiring berupa 2 unit kereta penumpang dengan nomor IW 38221 dan IW 38212 yang dikenal sebagai rangkaian kembar Djoko Kendil (sebagai catatan, pada unit IW 38212 terpasang generator set untuk menyuplai kelistrikan di dalam kereta).

Proses revitalisasi sarana ESS 3201 yang berkonfigurasi bogie 1-Bo'-Bo'-1 (1 sumbu roda idle ujung I, 2 sumbu roda bermotor penggerak bagian depan, 2 sumbu roda bermotor penggerak bagian belakang dan 1 sumbu roda idle ujung II) oleh tim kerja Balai Yasa Manggarai sendiri memakan waktu hampir 5 tahun lamanya dengan perubahan total di bagian traksi penggerak, di mana sistem transmisi asli buatan Heemaf-Westinghouse digantikan dengan komponen yang diambil dari eks rangkaian KRL non AC jenis rheostatik yang sudah tidak lagi digunakan. Warna lokomotif yang semula didominasi putih krem pun diubah menjadi warna biru yang terkesan lebih elegan dan sejuk dipandang.

Beralih kepada 2 unit di belakangnya, IW 38221 dan IW 38212 sendiri merupakan unit eks rangkaian Nacht Express (secara literal berarti "ekspres malam"), yang didatangkan Staatspoorwegen (SS) dari pabrikan Beynes di Prancis pada 1938 dengan penomoran awal SS 9000. Dengan berjalannya waktu, unit-unit kereta ini beberapa kali mengalami proses turun kelas hingga unit IW 38212 terakhir kali dioperasikan sebagai kereta ekonomi berkode CW 38 201 sebelum diubah ke model penomoran K3-38201, di mana unit IW 38221 terakhir kali tercatat berkode NRU 38201.

Nama "Djoko Kendil" sendiri dipilih oleh tim Balai Yasa Sarana Kereta di Surabaya Gubeng (kode: SGU) yang diambil dari sebuah tokoh legenda dari Yogyakarta, yang mana Djoko Kendil merupakan rakyat jelata nan miskin yang dikutuk sejak lahir menjadi sosok buruk rupa, hingga akhirnya mendapatkan pasangan seorang putri bungsu dari raja di daerahnya dan berubah menjadi sosok ksatria. Gambar periuk di bodi kereta tersebut adalah simbol dari tubuh Djoko Kendil yang dikisahkan seperti demikian.

Djoko Kendil sendiri dirancang seperti layaknya KA eksekutif masa lampau dengan fasilitas kursi sofa, meja berbentuk bundar, televisi besar berukuran 36 inci, minibar, dan balkon untuk melihat pemandangan di salah satu ujungnya. Kedua unit IW demikian sengaja dimodifikasi dari model penyambungan biasa menjadi satu kesatuan unit yang saling tak terpisahkan, sehingga keduanya selalu berdampingan saat dibawa ke mana pun.

Ketiga unit tersebut ditampilkan untuk umum di stasiun Jakarta Kota selama 2 hari, di mana pada waktu menjelang sore di hari pertama dan pada akhir peringatan hari perkeretaapian nasional pada 28 September lalu keseluruhan sarana tersebut kembali ke dalam lingkungan Balai Yasa Manggarai.


Eksterior

Interior

Demikianlah tulisan pertama mengenai pekan perkeretaapian nasional ini penulis sampaikan, semoga informasi ini bermanfaat.

Informasi lanjutan mengenai pekan perkeretaapian nasional yang telah berlangsung akan penulis berikan dalam kesempatan berikutnya.


Sumber data dan informasi: PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi Heritage
Sumber dokumentasi: S.T.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar