Selamat Datang! Anda adalah pengunjung ke - ようこそ! あなたは人目のお客様に:

2011-07-04

Renungan Bulanan: Commuter Line & KRL Ekonomi

Pada 2 Juli lalu PT. KAI (Persero) Daop I Jakarta telah meluncurkan layanan baru Commuter Line yang menggabungkan layanan ekonomi AC dengan ekspres di mana kereta berhenti di setiap stasiun dengan tarif yang sudah ditentukan yaitu:

  • Lintas Bogor = Rp7.000,-
  • Lintas Bekasi = Rp6.500,-
  • Lintas Depok dan Serpong = Rp6.000,-
  • Lintas Tangerang = Rp5.500,-

Tidak lama setelah itu, terdapat juga imbauan bahwa pengguna KRL dianjurkan menggunakan KRL Commuter Line yang tidak termasuk dalam program subsidi pemerintah seperti spanduk-spanduk yang terpasang berikut ini:


Sayangnya imbauan dalam spanduk tersebut justru tidak dihiraukan oleh pengguna KRL di mana mayoritas pengguna lebih mengutamakan waktu sehingga naik KRL apapun yang mereka temui di stasiun meskipun itu adalah KRL ekonomi non AC.

Dari pantauan penulis, pada pagi hari di mana penduduk Bogor dan Depok bepergian ke Jakarta dan sore hari di mana mereka kembali ke rumah mereka, masih terdapat pengguna KRL Commuter Line yang terang-terangan mengganjal pintu dan menaiki atap kereta serta ketidaksterilan kereta khusus wanita pada KRL ekonomi dari pengguna jasa yang berjenis pria.

Lantas, bagaimana solusi yang diberikan PT. KCJ setelah kejadian pengrusakan KRL Commuter Line di stasiun Jakarta Kota pada 18 Juni lalu?

Pertama, penurunan tarif Commuter Line sebesar Rp1.000 sampai Rp2.500, di mana pada awalnya semua KRL Commuter Line bertarif Rp8.000 (kecuali lintas Bogor dengan tarif Rp9.000).

Kedua, jam-jam kedatangan diperbaiki dan pengawasan atas potensi pengguna tak bertiket.

Akan tetapi, faktanya seringkali petugas PT. Sentinel Garda Semesta (SGS) yang seharusnya mengamankan perjalanan KRL justru malah gentar menghadapi serbuan ganjelers dan atapers yang mana tanpa mereka sadari perilaku mereka memperpendek usia pakai armada KRL itu sendiri, dan mereka seringkali tidak memeriksa tiket pengguna apabila KRL dalam keadaan penuh sesak.

Penulis hanya bisa berharap agar layanan Commuter Line dapat disesuaikan seperti halnya layanan KRL ekonomi dan ekspres, dan pemerintah dapat menyadari bahwa kereta api merupakan tulang punggung ekonomi di saat jalan raya tidak mampu lagi menampung kepadatan kendaraan yang hilir mudik sepanjang waktu.

- Indonesian Railway Corner ~ Aktual, Kritis, Mengupas Tuntas Perkeretaapian Indonesia & Jepang -

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar