Selamat Datang! Anda adalah pengunjung ke - ようこそ! あなたは人目のお客様に:

Tampilkan postingan dengan label manajemen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manajemen. Tampilkan semua postingan

2010-08-12

Analisis Pengaruh Redenominasi Terhadap Harga Komoditi Pokok Pertanian

Dalam penulisan kali ini, penulis akan mencoba menganalisis pengaruh kebijakan redenominasi terhadap harga-harga kebutuhan pokok pertanian di pasar dengan menekankan pada arus permintaan dan penawaran (supply and demand) yang terjadi.

Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui seberapa besar faktor kebijakan redenominasi mempengaruhi harga-harga jual dari komoditi sektor pertanian dalam negeri seperti pupuk, benih tanaman produksi, media tanam, pembasmi hama dan lain sebagainya.

Kutipan berita dari beberapa sumber:

a. Kompas
Bogor, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai wajar terjadi kenaikan harga pada satu atau dua bahan kebutuhan pokok saat permintaan masyarakat meningkat.
Kenaikan juga perlu dimaklumi jika terjadi pada komoditas pertanian dan memberi tambahan penghasilan bagi petani.
”Kadang-kadang ada komoditas pertanian, yang petani itu mendapat untung setahun sekali, ya anggaplah itu rezeki,” ujar Presiden ketika membuka Rapat Kerja Kabinet Indonesia Bersatu II dengan gubernur dan ketua DPRD se-Indonesia di Istana Bogor, Jawa Barat, Kamis (5/8).
Presiden meminta jajaran pemerintah pusat dan daerah bekerja sama untuk memastikan harga kebutuhan pokok masyarakat tidak melonjak terlalu tinggi menjelang bulan Ramadhan hingga Lebaran nanti.
Meski begitu, perlu dipahami pula, apabila kenaikan harga terjadi dalam batas wajar, terutama untuk komoditas pertanian. ”Kita tahu setiap mendekati hari Lebaran terjadi gejolak harga, itu bisa dijelaskan,” ujar Presiden.
Menjelang Lebaran, kata Presiden, permintaan bahan konsumsi rumah tangga meningkat. Kenaikan harga pasti terjadi jika suplai barang di pasar tetap.
”Karena itu, terhadap bahan-bahan pokok yang utama, manakala kenaikannya tidak wajar, menteri terkait bekerja sama dengan para gubernur, bupati, dan wali kota, laksanakanlah operasi pasar, dengan demikian terjadi stabilisasi harga,” ujar Presiden Yudhoyono.

b. Tempo Interaktif
Jakarta -- Rencana BI melakukan redenominasi rupiah dikhawatirkan memicu kepanikan masyarakat karena dianggap sanering atau pemotongan nilai mata uang. "Padahal keduanya berbeda," kata ekonom Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Tony Prasetiantono, kepada Tempo di Jakarta kemarin. Bank sentral bakal kesulitan mensosialisasi wacana ini kepada masyarakat awam.
Untuk menyederhanakan nominal mata uang, inflasi harus berada di level yang rendah, 5 persen, selama empat tahun berturut-turut. Tahun ini inflasi diprediksi di atas 6 persen. Selain itu, ketersediaan cadangan devisa paling tidak US$ 100 miliar agar nilai tukar rupiah stabil. "Cadangan devisa Indonesia sekarang US$ 76 miliar," katanya.
Menurut Tony, jika dua syarat itu terpenuhi, redenominasi bakal efektif. Namun dia pesimistis persyaratan yang berat itu terpenuhi, meskipun usul bank sentral tersebut cukup bagus.
Realisasi redenominasi butuh kesiapan lembaga riset pemerintah, selain riset Bank Indonesia. "Harus dilihat juga kesiapan dunia usaha dan investasi," kata ekonom Institute for Development of Economics and Finance, Aviliani. Biaya yang dikeluarkan BI juga besar dalam pencetakan uang baru.
Aviliani mengatakan redenominasi tak akan berdampak langsung terhadap perekonomian Indonesia. Apalagi tiga tahun ke depan perekonomian diprediksi berjalan stabil. Tapi wacana ini harus disosialisasi kepada masyarakat agar tak menimbulkan citra negatif.
Pada 2013, 2014, dan 2015 diberlakukan dua label uang, yakni uang lama dan baru. Uang lama dengan digit tiga nol, dan uang baru tiga digitnya dipangkas dengan bubuhan tulisan “baru”.
Tahap berikutnya, 2016-2018, semua uang kertas lama ditarik. Selanjutnya, pada 2019-2020, pemerintah menghilangkan tulisan “baru” pada uang yang beredar. Sebelum semua tahap dimulai, DPR harus merampungkan Rancangan Undang-Undang Mata Uang selama kurang-lebih dua tahun. Jika ini disahkan, pemerintah bisa memulai tahap redenominasi.

c. Antara News
Jakarta (ANTARA News) - Different quarters have given mixed reactions to the discourse over the possibility of re-denominating the country`s rupiah currency, saying that Bank Indonesia (BI/the central bank) should exercise extra-careful consideration before it takes a decision on it.

"Bank Indonesia should not hastily re-denominate the rupiah currency which could cause a wide impact and disadvantage to the people`s interest," Ade Komarudin, chairman of SOKSI, a labor organization affiliated to the Golkar Party, said.
He said that as a monetary institution BI had to carry out a comprehensive and careful study about the impact of the policy and should not force itself to implement it if it would create turmoil in society.
Komaruddin said it was not the correct time now to re-denominate the rupiah because it was a very sensitive matter to the people.
Democrat Party politician Tengku Dirkhansyah Abu Subhan Ali concurred Komaruddin`s view saying that it was not yet the correct time to apply the policy as it could cause panic in society.
"Now is not the time to re-denominate the rupiah. The people consider that re-denomination is the same as `sanering` (a Dutch word meaning slashing the rupiah), though it is two different things," he said.
Tengku Dirkhansay, who is popularly called Dicky, said that BI had to have at least two main reasons before it could re-denominate the rupiah, namely stable inflation and enough foreign exchange reserves.
He said that re-denomination could only be carried out if inflation was stable under the 5 percent level while the inflation in the country was still expected to reach over 6 percent.
It should be ascertained that inflation was below five percent in a four consecutive years.
In the meantime, the government must assure that foreign exchange reserves should be stable at between Rp100 trillion and Rp200 trillion. At present, Indonesia`s foreign exchange reserves were only about Rp76 trillion.

1. Latar Belakang

Akhir-akhir ini di kalangan masyarakat pelaku ekonomi beredar wacana tentang redenominasi atau devaluasi, yang mana wacana tersebut mendefinisikan pemotongan nilai mata uang dari nominal dasar seribu rupiah (Rp 1000,00) menjadi nominal dasar satu rupiah (Rp 1,00) tanpa mengubah daya beli dari komoditi yang sama. Redenominasi itu sendiri merupakan penurunan nilai tukar sebuah sistem mata uang terhadap uang asing yang dijadikan acuan atau terhadap nilai logam mulia. Redenominasi ini serupa dengan kebijakan sanering (berasal dari Bahasa Belanda schenering) yaitu menciutkan nilai tukar uang akibat memburuknya situasi ekonomi yang sering ditandai dengan besarnya angka inflasi. Dengan sanering ini maka diharapkan ekonomi yang sakit dan berpotensi kebangkrutan akan pulih bahkan lebih sehat dari semula. Namun banyak risiko yang musti diperhitungkan bahkan ditanggung akibat kebijakan redenominasi ini, sehingga kebijakan ini perlu diperhitungkan dengan matang sebelum diberlakukan.

2. Studi Kasus

Berdasarkan sumber-sumber berita yang menjelaskan tentang redenominasi nilai tukar uang rupiah, terdapat beberapa aspek-aspek yang harus dipertimbangkan sebelum kebijakan redenominasi dilakukan, yaitu:

a. Aspek waktu transisi antara nilai tukar lama dan nilai tukar yang baru,
b. Biaya yang harus dikeluarkan untuk mengadakan redenominasi,
c. Penetapan harga-harga setelah redenominasi.

Ketiga aspek tersebut dapat mempengaruhi jumlah penawaran dan permintaan dari komoditi pokok pertanian yang dibutuhkan masyarakat, karena kebijakan pemotongan nilai mata uang itu sendiri mempengaruhi daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pokok sektor pertanian secara tidak langsung dikarenakan perlunya adaptasi terhadap denominasi atau nilai mata uang yang baru.

Jika diamati berdasarkan aspek penawaran dan aspek permintaan, kebijakan redenominasi tersebut tidak memiliki dampak positif yang berarti dalam pelaksanaannya di pasar, karena percetakan uang dengan denominasi baru itu sendiri membutuhkan biaya produksi yang tidak sedikit. Analisis berdasarkan kedua aspek tersebut adalah sebagai berikut:

a. Aspek penawaran

Dengan pemberlakuan kebijakan redenominasi, jumlah penawaran barang-barang kebutuhan pokok cenderung stabil karena inti dari redenominasi itu sendiri tidaklah menurunkan nilai mata uang secara keseluruhan, melainkan mengubah nilai tukar dari mata uang yang bersangkutan di mana nilai tukar yang baru disetarakan dengan nilai tukar yang lama. Dengan menganggap faktor-faktor lainnya adalah tetap (prinsip ceteris paribus), apabila S0 merupakan jumlah penawaran sebelum redenominasi dan S1 merupakan jumlah penawaran setelah redenominasi, maka kurva penawaran untuk barang-barang komoditi atau kebutuhan pokok sektor pertanian di pasar berbentuk linier dengan pergeseran cenderung mengarah ke kiri yang memiliki rasio perkiraan pergeseran jumlah penawaran sebesar 1% hingga 3 seperti pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Grafik Perkiraan Pergeseran Penawaran Kebutuhan Pokok Sektor Pertanian
Sebelum dan Setelah Kebijakan Redenominasi Diberlakukan
Pergeseran kurva penawaran tersebut dapat terjadi akibat faktor internal dari produsen kebutuhan pokok, yaitu penjual yang aktif memproduksi sesuai dengan jenis kebutuhan pokok yang diproduksi (sebagai contohnya adalah benih tanaman produksi) karena terdapat faktor kegagalan produksi yang mempengaruhi jumlah penawaran barang kebutuhan pokok yang bersangkutan di pasar.

b. Aspek permintaan

Dengan pemberlakuan kebijakan redenominasi, maka akan terjadi masa transisi di mana denominasi lama secara perlahan namun pasti akan digantikan oleh denominasi yang baru, di mana masa transisi ini bervariasi sesuai dengan kebijakan lanjutan yang dikeluarkan setelah pemberlakuan redenominasi. Apabila masa transisi tersebut memiliki rentang waktu yang cukup lama maka pelaku ekonomi di pasar akan memanfaatkan kesempatan ini untuk cenderung menaikkan jumlah permintaan mereka akan kebutuhan pokok pertanian demi mengamankan persediaan kebutuhan selama masa transisi hingga denominasi baru sepenuhnya berlaku dan denominasi lama ditarik dari peredaran. Berdasarkan kecenderungan tersebut, apabila D0 merupakan jumlah permintaan sebelum redenominasi dan D1 merupakan jumlah permintaan setelah redenominasi, maka kurva permintaan akan kebutuhan pokok sektor pertanian akan cenderung bergeser ke kanan seiring naiknya jumlah permintaan pasar terhadap barang kebutuhan pokok yang bersangkutan seperti pada Gambar 2 berikut ini.

Gambar 2. Grafik Perkiraan Pergeseran Permintaan Kebutuhan Pokok Sektor Pertanian
Sebelum dan Setelah Kebijakan Redenominasi Diberlakukan

Pergeseran kurva tersebut diperkirakan akan berada pada rasio 2% hingga 4% dikarenakan penurunan nilai mata uang akan mendorong daya beli dari pelaku ekonomi secara signifikan dengan kekhawatiran akan kelangkaan harga barang kebutuhan pokok yang bersangkutan di pasar.

c. Aspek keseimbangan harga

Dengan mengacu kepada kedua aspek di atas, maka dapat dibuat suatu kurva keseimbangan antara jumlah permintaan dan penawaran yang tergambar seperti pada Gambar 3 berikut ini.

Gambar 3. Grafik Perkiraan Pergeseran Harga dan Jumlah Barang Kebutuhan Pokok
Sebelum dan Setelah Kebijakan Redenominasi Diberlakukan
Berdasarkan kurva tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kebijakan redenominasi perlu dikaji ulang lebih jauh sebab akan menimbulkan pergeseran harga-harga kebutuhan pokok sektor pertanian di pasar, yang mana harga barang kebutuhan pokok yang bersangkutan akan cenderung meningkat karena ketidakseimbangan jumlah barang yang beredar dengan permintaan terhadap barang tersebut selama masa transisi.

3. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan, maka kesimpulan yang dapat diambil dari analisis di atas adalah kebijakan redenominasi akan menaikkan harga kebutuhan pokok untuk sektor pertanian dikarenakan tingginya permintaan dari pelaku ekonomi yang dalam hal ini merupakan petani sebagai produsen komoditi bahan pokok seperti sembako untuk menjaga persediaan mereka selama masa transisi untuk menghindari kegagalan produksi sembako akibat faktor eksternal (hama, penyakit, cuaca dan lainnya). Akan tetapi jika memang redenominasi tersebut sudah benar-benar diperhitungkan dan pembuat kebijakan siap dengan segala konsekuensinya maka kebijakan penurunan nominal mata uang tersebut tidak akan menimbulkan masalah kenaikan harga kebutuhan untuk pertanian di pasar sepanjang pengawasan dari pembuat kebijakan memadai.

Demikian penjelasan dari penulis mengenai kebijakan redenominasi dan pengaruhnya terhadap harga kebutuhan pokok sektor pertanian, semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca.

Sumber artikel:


2010-07-19

Analisis Pergerakan Harga Daging Sapi Juli-Agustus 2010

Dalam penulisan kali ini penulis akan mencoba melakukan analisis terhadap pergerakan terkini harga daging sapi di pasar tradisional dengan menekankan kepada motif dan prinsip ekonomi yang berlaku.

Fokus dari tujuan yang ingin dicapai dari penulisan ini adalah menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produksi daging sapi dalam negeri dan daging sapi impor, permintaan daging sapi dalam negeri, harga daging sapi impor, harga daging sapi dunia serta harga daging sapi dalam negeri.

1. Kutipan Berita

SURABAYA--MI: Harga daging sapi di sejumlah pasar tradisional di Surabaya, Sabtu (17/7), naik sekitar Rp2.000 per kilogram (kg) dari harga yang ditawarkan pada pekan sebelumnya (10/7) seiring naiknya permintaan pasar.

"Kini, harga daging sapi di pasar ini mencapai Rp59.000 per kg. Kalau pekan lalu hanya Rp57.000," kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur Zainal Abidin saat menghadiri peresmian Pasar Induk Agribis Puspa Agro di Sidoarjo, Sabtu (17/7) pagi.

Ia menjelaskan, sejak awal Juli ini grafik permintaan pasar terhadap komoditas tersebut perlahan meningkat. Padahal, stoknya di wilayah ini diprediksi cukup memenuhi kebutuhan pasar.

"Sementara itu, faktor tingginya permintaan pasar juga meningkatkan harga daging ayam ras. Kenaikan harga ayam juga dipengaruhi tingginya harga pakan," katanya.

Pedagang Daging Ayam Ras di Pasar Jagir Baru Surabaya, Hariadi, membenarkan, kini harga komoditas tersebut naik menjadi Rp24.500 per kg. "Padahal, harga pekan sebelumnya (10/7) hanya mencapai Rp21.500 per kg," katanya.

Kenaikan harga daging ayam ras, kata dia, ikut dipicu anomali musim beberapa pekan terakhir sehingga ada sejumlah ayam ras mengalami sakit. "Situasi tersebut tentu saja berpengaruh terhadap stok ayam ras di pasar ini," katanya.

Menanggapi tingginya harga daging ayam ras, konsumen daging ayam ras di Pasar Wonokromo Surabaya, Febry Tri Sukma, berharap, pada H-7 Ramadhan 1431 Hijriah kondisi ini tidak terjadi mengingat saat itu permintaan pasar tinggi.

"Sebelum Ramadan, biasanya sejumlah masyarakat melaksanakan acara selamatan dan selalu membeli daging ayam ras. Pilihan daging ayam ras karena harganya lebih terjangkau dibandingkan harga daging ayam kampung yang kini antara Rp37.000,00 per ekor hingga Rp40.000,00 per ekor," katanya. (Ant/OL-9)

Sumber: Media Indonesia, Sabtu, 17 Juli 2010


Semarang (ANTARA News) - Sejumlah pedagang bakso yang ada di Kota Semarang dan sekitarnya mengeluhkan mahalnya harga daging sapi di pasaran yang saat ini mencapai Rp60 ribu per kilogram.

"Kenaikan harga daging tersebut berbanding terbalik dengan harga hewan ternak sapi yang saat ini sedang turun cukup drastis di kalangan peternak," kata Ketua Paguyuban Pedagang Mi dan Bakso Jawa Tengah, Lasiman, di Semarang, Minggu.

Selain mengeluhkan kenaikan harga daging sapi dari Rp40 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram, para pedagang bakso juga menyayangkan masih tingginya harga sayuran di pasaran termasuk cabai yakni Rp35 ribu per kilogram.

Selaku ketua paguyuban, ia mengimbau kepada para pedagang daging agar menurunkan harga salah satu bahan baku pembuatan bakso tersebut.

"Kalau harga hewan sapi turun diharapkan harga daging sapi juga secara otomatis ikut turun, tidak seperti saat ini yang cukup memberatkan para pedagang kecil seperti penjual bakso," ujarnya.

Lasiman juga mengharapkan peran pemerintah melalui Dinas Pertanian baik itu di tingkat kabupaten maupun kota berupaya menekan harga daging sapi yang cukup mahal di pasaran.

"Hal tersebut dimaksudkan agar para pedagang bakso tidak merasa keberatan," katanya.

Terkait dengan mahalnya harga daging sapi ini, kata dia, para pedagang tidak mungkin menaikkan harga satu porsi bakso yang rata-rata dijual Rp7.000.

"Kalau harga satu porsi bakso ikut dinaikkan oleh para pedagangnya maka dikhawatirkan jumlah pembeli akan semakin berkurang dan berdampak pada pendapatan mereka," ujarnya.

Menurut dia, cara yang dapat dilakukan dirinya bersama anggota paguyuban dalam menyikapi mahalnya harga daging sapi adalah dengan mengurangi sedikit porsi bakso yang dijual kepada pembeli.

"Selain itu, kami juga menekan kebutuhan-kebutuhan yang tidak terlalu penting seperti mematikan listrik di siang hari," kata Lasiman. (WSN/K004)


Sumber: Antara News, 19 Juli 2010

2. Analisis Berdasarkan Aspek Ekonomi

Berdasarkan kutipan berita kenaikan harga daging sapi di atas, analisis berdasarkan aspek ekonomi yang dapat dilakukan adalah pengamatan dari segi tingkat produksi dan penawaran (production and supply) beserta permintaan (demand), yang terbagi sebagai berikut:

a. Aspek produksi dan penawaran (production and supply)

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Peternakan sepanjang tahun 2004 hingga 2008, tercatat tiga propinsi yang paling banyak memproduksi daging sapi adalah Jawa Timur (402.220 ton), Jawa Barat (349.973 ton) dan Jawa Tengah (261.986 ton) dengan rincian disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Produksi Daging Nasional Per Provinsi - Sapi
Tahun 2004 s/d 2008
(dalam ekor)

NoPropinsiTAHUN
20042005200620072008
1Nanggro Aceh Darussalam6,6357,17211,60112,1467,322
2Sumatera Utara6,9829,88410,1329,34116,261
3Sumatera Barat13,54414,71615,56214,77416,026
4Riau3,7544,5936,8615,6406,222
5Jambi2,8842,8552,9563,1643,558
6Sumatera Selatan8,7048,70511,3598,8879,630
7Bengkulu1,6331,4251,1271,3881,905
8Lampung6,7686,8486,8493,15510,670
9DKI Jakarta13,04510,0618,5057,0518,562
10Jawa Barat79,02972,52977,75950,64670,010
11Jawa Tengah65,10653,96350,32646,85545,736
12DI Yogyakarta6,8486,0697,2644,9244,628
13Jawa Timur78,06978,34979,09181,53885,173
14Bali8,6876,8967,3945,8758,356
15Nusa Tenggara Barat6,2525,0467,2697,6096,767
16Nusa Tenggara Timur3,6104,3427,5175,8988,134
17Kalimantan Barat4,3244,7997,2695,5326,767
18Kalimantan Tengah2,9713,0383,0014,7794,898
19Kalimantan Selatan5,8825,5936,3685,4755,796
20Kalimantan Timur6,8036,9157,3466,9737,147
21Sulawesi Utara3,8614,1504,3714,2424,326
22Sulawesi Tengah2,4992,9883,2183,2652,640
23Sulawesi Selatan12,1699,99123,51511,1609,504
24Sulawesi Tenggara4,6744,1552,6493,1483,555
25Maluku1,4591,6421,6131,4501,261
26Papua2,0711,4322,0052,1452,133
27Bangka Belitung1,2691,3512,7411,6281,658
28Banten15,92813,83215,37214,87525,882
29Gorontalo72,1131,9119062,9092,892
30Maluku Utara08971,1518591,110
31Kepulauan Riau0977954776794
32Irian Jaya Barat06007598281,594
33Sulawesi Barat09831,0325441,594
TOTAL447,573358,707395,842339,479392,511
Keterangan: angka 0 menunjukan tidak ada data atau dibawah satuan.

Sumber: Direktorat Jenderal Peternakan

Selain produksi lokal, dikarenakan jumlah permintaan akan daging sapi yang terus meningkat setiap tahunnya, ketersediaan daging sapi di dalam negeri juga diperoleh dengan mengimpor daging sapi potong dari luar negeri, yang mana berdasarkan data yang diperoleh sejak 2005 hingga 2009 rincian produksi daging nasional beserta besarnya konsumsi daging sapi setiap tahunnya tersaji dalam tabel 2 berikut ini.

Tabel 2. Produksi Daging Sapi Potong Lokal dan Impor
Tahun 2005 s/d 2010
(dalam ribuan ton)


Sumber: Blue Print Program Swasembada Daging Sapi 2014, Departemen Pertanian

Sedangkan laju produksi daging sapi di dalam negeri sepanjang tahun 2005 hingga 2009 mengalami kenaikan dengan rincian pada tahun 2005 populasi sapi sebesar 10,6 juta ekor dan pada tahun 2006 menjadi 10,9 juta ekor atau meningkat 2,8%. Kenaikan populasi sapi meningkat tajam pada tahun 2007 dan 2008 yakni masing-masing 5,5% dan 6,9%. Kenaikan populasi sapi ini kemudian melambat 2,4% pada tahun 2009, yang secara diagramatik disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1. Grafik Produksi Daging Nasional Per Tahun
Tahun 2005 s/d 2008
(dalam jutaan ekor)


Sumber: Blue Print Program Swasembada Daging Sapi 2014, Departemen Pertanian

Pemerintah melalui Departemen Pertanian sendiri telah memproyeksikan pertumbuhan produksi daging sapi di dalam negeri untuk lima tahun ke depan (2010 hingga 2014) dengan data yang tersaji pada Tabel 3 berikut ini.

Tabel 3. Proyeksi Produksi Daging Sapi Potong Lokal dan Impor
Tahun 2010 s/d 2014
(dalam ribuan ton)



Kesimpulan yang dapat diambil dari kecenderungan produksi daging sapi di atas adalah produksi daging sapi akan terus meningkat dari tahun ke tahun, namun menjelang bulan Ramadhan ini penawaran akan daging sapi menurun dengan tingkat penurunan yang cukup signifikan menyusul turunnya jumlah ketersediaan sapi potong dikarenakan perubahan cuaca yang tidak menentu, yang bermakna pada saat ini terjadi pergeseran kurva penawaran (supply curve) ke arah kiri karena terjadi penurunan jumlah penawaran dari produsen dari posisi awal (S0) hingga posisi baru (S1) seperti pada Gambar 2 berikut ini.

Gambar 2. Grafik Kecenderungan Pergeseran Penawaran Daging Sapi
Sepanjang Juli 2010


di mana Q0 merupakan jumlah awal dari penawaran yang dilakukan di pasar berdasarkan tingkat harga P1, sedangkan Q1 dan Q2 merupakan jumlah barang (dalam hal ini daging sapi) yang ditawarkan setelah terjadi pergeseran penawaran dari S0 ke S1 berdasarkan tingkat harga P0 sehingga dapat disimpulkan kenaikan tingkat penawaran daging sapi dari produsen menyebabkan turunnya harga daging sapi yang berlaku di pasar.

b. Aspek permintaan (demand)

Permintaan akan komoditas pangan berupa daging sapi merupakan yang tertinggi di seluruh Indonesia di mana kebutuhan daging sapi setiap tahunnya untuk konsumsi nasional terus meningkat (berdasarkan data pada Tabel 2). Hal ini menyebabkan kurva permintaan (demand curve) selalu bergeser ke arah jumlah (quantity) yang lebih besar, yang mana aspek penawaran juga mempengaruhi posisi titik keseimbangan (equilibrium point) antara besarnya permintaan dan besarnya penawaran.

Kurva permintaan akan daging sapi itu sendiri akan terus bergeser mengikuti kenaikan penawaran dari posisi awal (D0) hingga posisi baru (D1) yang terjadi seperti pada Gambar 3 berikut ini.

Gambar 3. Grafik Kecenderungan Pergeseran Permintaan Daging Sapi
Sepanjang Juli 2010

Berdasarkan kurva permintaan di atas, terlihat bahwa kenaikan jumlah permintaan dari D0 ke D1 menyebabkan kenaikan harga yang selisihnya adalah P1-P0 untuk daging sapi sejumlah Q1 (yang berarti jumlah penawaran tetap). Hal ini mendorong terjadinya kenaikan harga jual daging sapi di pasar, yang mana daya beli dari konsumen akan menurun seiring kenaikan harga tersebut karena dalam jumlah penawaran yang tetap membuat jumlah barang yang tersedia semakin menurun seiring naiknya permintaan terhadap daging sapi potong dari konsumen.

Sedangkan titik keseimbangan harga yang baru akan tercapai pada kondisi harga yang sama tetapi dengan jumlah penawaran yang dinaikkan atau dengan kata lain produsen perlu menambah jumlah barang sehingga keseimbangan harga dan jumlah barang di pasar dapat mencapai titik kestabilan E1 seperti pada Gambar 4 berikut ini.

Gambar 4. Grafik Kecenderungan Pergeseran Permintaan dan Penawaran Daging Sapi
Sepanjang Juli 2010

Berdasarkan analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa langkah yang efektif untuk mengurangi laju kenaikan harga akibat berkurangnya pasokan dari produsen adalah dengan meningkatkan jumlah produksi dalam negeri dan impor untuk mencapai kestabilan harga.

3. Upaya yang Dapat Dilakukan

Untuk menjaga kestabilan harga daging yang saat ini berkecenderungan terus meningkat seiring mendekatnya hari raya Idul Fitri, maka pemerintah perlu melakukan upaya-upaya sebagai berikut:

a. Operasi pasar
Operasi pasar dapat dilakukan dengan sasaran menambah jumlah ketersediaan daging sapi di pasar, di mana produsen daging sapi turut aktif berperan dalam meningkatkan jumlah produksi sehingga jumlah penawaran di pasar juga ikut meningkat untuk mengimbangi naiknya permintaan, dan produsen juga perlu melakukan langkah-langkah persuasif untuk mengurangi tingkat mortalitas dari sapi potong akibat perubahan cuaca.

b. Impor daging sapi dari luar negeri
Apabila operasi pasar tidak juga dapat menyelesaikan masalah kenaikan harga daging sapi di pasar, maka alternatif berikutnya yang dapat ditempuh adalah meningkatkan jumlah penawaran melalui jalur impor daging sapi potong dari produsen di luar negeri. Namun impor daging sapi itu sendiri masih mengundang pro dan kontra dari berbagai pihak menyangkut aspek keamanan dan kesterilan daging sapi potong yang diimpor, menyusul merebaknya sejumlah penyakit yang mewabah di beberapa negara eksportir daging sapi potong yang memasukkan produk hasil peternakannya ke Indonesia.

Demikian penulisan saya tentang analisis pergerakan harga daging sapi potong sepanjang bulan Juli hingga Agustus 2010, semoga informasi yang penulis sajikan dapat bermanfaat bagi pembaca.

Sumber Artikel dan Referensi

Media Indonesia: 17 Juli 2010
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/07/07/156207/125/101/Harga-Daging-Sapi-di-Surabaya-Merangkak-Naik

Antara News: 19 Juli 2010
http://www.antaranews.com/berita/1279483206/pedagang-bakso-keluhkan-mahalnya-harga-daging-sapi

Produksi Daging Nasional Per Provinsi - Sapi,
, Direktorat Jenderal Peternakan: 2009
http://www.ditjennak.go.id/basisdataproses.asp?thn1=2004&thn2=2008&jd=Sapi&button=Submit&rep=5&ket=Produksi+Daging+Nasional+Per+Provinsi+

STRATEGI PENGUATAN PRODUKSI DAGING SAPI DALAM NEGERI, Direktorat Jenderal Peternakan: 2010
http://www.ditjennak.go.id/buletin/STRATEGI%20PENGUATAN%20PRODUKSI%20DAGING.pdf

BLUE PRINT PROGRAM SWASEMBADA DAGING SAPI 2014,
Direktorat Jenderal Peternakan: 2010
http://ditjennak.go.id/regulasi%5Cblueprint.pdf

2010-06-11

Profil Kabupaten Wonogiri

Kabupaten Wonogiri (bahasa Jawa: wanagiri, secara harfiah "Hutan di Gunung"), adalah sebuah daerah kabupaten di Jawa Tengah. Secara geografis lokasi Wonogiri berada di bagian tenggara Provinsi Jawa Tengah. Bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo, bagian selatan langsung di bibir Pantai Selatan, bagian barat berbatasan dengan Wonosari di provinsi Yogyakarta, Bagian timur berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur, yaitu Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Pacitan. Ibu kotanya terletak di Wonogiri Kota. Luas kabupaten ini 1.822,37 km² dengan populasi 1,5 juta jiwa.

Kabupaten Wonogiri yang terkenal dengan sebutan Kota Gaplek, merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Tengah yang pembentukannya ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah–daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah.

Peta lokasi kabupaten Wonogiri:

Di bidang perdagangan, kabupaten Wonogiri memiliki statistik usaha sebagai berikut:

STATISTIK PENERBITAN DAN PERPANJANGAN SIUP (SURAT IZIN USAHA PERDAGANGAN)
PER KECAMATAN TAHUN 2007


Kecamatan
Usaha Kecil
Usaha Menengah
Usaha Besar
Jumlah
1.Pracimantoro
2. Paranggupito
3. Giritontro
4. Giriwoyo
5. Batuwarno
6. Karangtengah
7. Tirtomoyo
8. Nguntoronadi
9. Baturetno
10. Eromoko
11. Wuryantoro
12. Manyaran
13. Selogiri
14. Wonogiri
15. Ngadirojo
16. Sidoharjo
17. Jatiroto
18. Kismantoro
19. Purwantoro
20. Bulukerto
21. Puhpelem
22.Slogohiomo
23.Jatisrono
24.Jatipurno
25.Girimarto
27
-
14
21
14
7
41
19
85
18
18
23
53
202
66
114
14
15
19
25
9
26
60
19
23
1
-
-
-
-
-
1
-
1
-
-
-
1
6
6
2
-
-
1
1
-
-
2
-
-
1
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
9
1
-
-
-
1
1
-
1
1
1
1
29
-
14
21
14
7
42
19
86
18
18
23
54
217
73
116
14
15
21
27
9
27
63
20
24
Jumlah 2007
Jumlah 2006
Jumlah 2005
Jumlah 2004
Jumlah 2003
932
965
932
675
584
22
34
49
25
6
17
9
10
6
1
971
1008
991
706
591


STATISTIK PENERBITAN SIUP BARU DAN PERPANJANGAN SIUP TAHUN 2007

Bulan

Perusahaan Kecil Persh. Menengah Perusahaan Besar
Baru Perpan-
jangan
Baru Perpan-
jangan
Baru Perpan-
jangan
1. Januari
2. Februari
3. Maret
4. April
5. Mei
6. Juni
7. Juli
8. Agustus
9. September
10. Oktober
11. Nopember.
12. Desember

89
70
66
70
57
88
65
68
61
36
38
34

16
13
17
20
27
16
20
13
16
5
14
13

-
-
2
-
-
2
-
1
1
1
1
-

1
-
-
1
-
1
4
-
6
-
-
1

1
-
2
1
-
1
1
-
-
-
1
-

1
-
-
2
-
-
2
-
2
-
1
2

Jmlh 2007

Jmlh 2006

Jmlh 2005

742

793

707

190

161

226

8

27

31

14

12

18

7

8

4

10

7

5



Berdasarkan topografi daerah, sebagian besar penduduk di Kabupaten Wonogiri bekerja sebagai petani atau bercocok tanam, yang mana tanaman yang produktif adalah sebagai berikut:

LUAS PANEN RATA-RATA PRODUKSI DAN PRODUKSI BAHAN MAKANAN DI KABUPATEN WONOGIRI TAHUN 2007

No

Jenis Tanaman

Jumlah Tanaman

Tanaman Produktif

Produksi (kw)

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

Alpokat

Mangga

Rambutan

Jeruk

Sirsak

Sukun

Durian

Melinjo

Jambu biji

Sawo

Pepaya

Pisang

Nanas

18.442

597.186

275.320

49.142

74.689

20.976

121.080

634.321

-

45.841

174.426

977.736

33.806

14.075

495.045

206.393

29.799

33.116

14.164

77.624

476.960

-

32.827

109.102

644.521

22.276

7.743

420.789

92.877

14.903

7.289

7.793

73.745

85.851

-

13.132

43.640

257.811

445


1. Sejarah

Sejarah berdirinya Kabupaten Wonogiri dimulai dari embrio "kerajaan kecil" di bumi Nglaroh Desa Pule Kecamatan Selogiri. Di daerah inilah dimulainya penyusunan bentuk organisasi pemerintahan yang masih sangat terbatas dan sangat sederhana, dan dikemudian hari menjadi simbol semangat pemersatu perjuangan rakyat. Inisiatif untuk menjadikan Wonogiri (Nglaroh) sebagai basis perjuangan Raden Mas Said, adalah dari rakyat Wonogiri sendiri ( Wiradiwangsa) yang kemudian didukung oleh penduduk Wonogiri pada saat itu.

Mulai saat itulah Ngalroh (Wonogiri) menjadi daerah yang sangat penting, yang melahirkan peristiwa-peristiwa bersejarah di kemudian hari. Tepatnya pada hari Rabu Kliwon tanggal 3 Rabi'ul awal (Mulud) Tahun Jumakir, Windu Senggoro: Angrasa retu ngoyang jagad atau 1666, dan apabila mengikuti perhitungan masehi maka menjadi hari Rabu Kliwon tanggal 19 Mei 1741 ( Kahutaman Sumbering Giri Linuwih), Ngalaroh telah menjadi kerajaan kecil yang dikuatkan dengan dibentuknya kepala punggawa dan patih sebagai perlengkapan (institusi pemerintah) suatu kerajaan walaupun masih sangat sederhana. Masyarakat Wonogiri dengan pimpinan Raden Mas Said selama penjajajahan Belanda telah pula menunjukkan reaksinya menentang kolonial.

Jerih payah pengeran Samber Nyawa ( Raden Mas Said ) ini berakhir dengan hasil sukses terbukti beliau dapat menjadi Adipati di Mangkunegaran dan Bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya ( KGPAA) Mangkunegoro I. Peristiwa tersebut diteladani hingga sekarang karena berkat sikap dan sifat kahutaman ( keberanian dan keluhuran budi ) perjuangan pemimpin, pemuka masyarakat yang selalu didukung semangat kerja sama seluruh rakyat di Wilayah Kabupaten Wonogiri.

2. Infrastruktur

Kabupaten Wonogiri sendiri merupakan kabupaten yang masih terbelakang yang mana infrastruktur yang ada masih kurang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.
Sarana dan prasarana yang ada di kabupaten Wonogiri antara lain:
  • Akses jalan umum
Jalan yang menghubungkan kabupaten Wonogiri dengan kabupaten lain di sekitarnya masih terbatas dan banyak yang berlubang sehingga menghambat akses distribusi barang dan jasa hasil produksi dari produsen.
  • Kereta api
Kabupaten Wonogiri memiliki satu jalur kereta api yang hanya terhubung dengan kota Solo dan sebelum adanya waduk Gajah Mungkur jalur ini menyambung ke Baturetno, namun jalur ke arah Baturetno kini sudah dibongkar. Akses kereta api yang tersedia hanya satu unit rangkaian berupa feeder (KA pembantu) yang dipergunakan untuk membawa barang yang akan diperdagangkan ke kota Solo.

3. Permasalahan umum

Secara garis besar, kabupaten Wonogiri memiliki masalah-masalah utama sebagai berikut:
  • Minimnya persediaan air bersih di beberapa kecamatan sehingga warga perlu menambah biaya pengeluaran untuk mendapatkan air bersih saat terjadi kekeringan di musim kemarau.
  • Seringnya terjadi wabah penyakit dikarenakan faktor fasilitas kebersihan yang kurang memadai.
  • Pendapatan masyarakat yang sebagian besar masih tergolong kelas menengah ke bawah membuat daya beli masyarakat masih tergolong sedikit dan banyak bergantung kepada hasil dari alam.
  • Mutu SDM yang mayoritas masih kurang memenuhi standar karena efek dari putus sekolah,
  • Beberapa lapisan masyarakat berpotensi menimbulkan konflik karena fanatisme sempit yang berdasar dari masalah SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan).
4. Solusi

Berdasarkan masalah-masalah di atas, penulis mencoba untuk menganalisis kemungkinan dari pemecahan masalah-masalah di atas yang mana menghasilkan beberapa solusi yang perlu ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah sebagai berikut:

a. Pembuatan sumber air bersih yang terjangkau bagi masyarakat,
b. Perbaikan dan penambahan fasilitas kesehatan dan sanitasi lingkungan,
c. Meningkatkan daya saing dan daya beli masyarakat melalui operasi pasar dan penyediaan alat-alat produksi sesuai dengan bidang pekerjaan yang dilakukan (contohnya penyediaan pupuk dan pestisida bagi masyarakat yang bertani),
d. Meningkatkan mutu SDM melalui pendidikan formal maupun nonformal,
e. Menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan keamanan lingkungan.

Kesimpulannya, kabupaten Wonogiri masih memiliki potensi yang belum dikembangkan sehingga apabila pemerintah daerah tingkat II Wonogiri peduli dengan masalah ini maka bukan tidak mungkin Wonogiri dapat berkembang pesat menjadi daerah penyangga kota Solo.

Demikian penjelasan dari penulis tentang keadaan di kabupaten Wonogiri, semoga informasi ini bermanfaat bagi pembaca.

Sumber artikel/pustaka:

http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Wonogiri
http://www.soloaja.com/v2/index.php?option=com_kunena&Itemid=67&func=showcat&catid=18/
http://www.wonogirikab.go.id/home.php
http://www.jogja.polri.go.id/index.php?menu=kewilayahan&sub=gunungkidul&submenu=profile
http://rudi.site50.net/?cat=18