Selamat Datang! Anda adalah pengunjung ke - ようこそ! あなたは人目のお客様に:

2013-08-21

[Informasi] Sistem Tiket Harian Berjaminan (THB) KRL Jabodetabek

Pada kesempatan ini penulis memberikan penjelasan dan keterangan lebih lanjut mengenai sistem tiket harian berjaminan (THB) yang mulai berlaku efektif pada 22 Agustus.

Menimbang bahwa sistem kartu untuk sekali perjalanan (single trip) mengalami kendala dalam hal distribusi dan mengingat bahwa banyak terdapat penyalahgunaan maupun pemindahtanganan kartu single trip yang tidak melalui prosedur semestinya, maka PT. KAI Commuter Jabodetabek selaku penyelenggara jasa memperkenalkan sistem kartu tiket harian berjaminan yang mana biaya penjaminan dikenakan saat pembelian pertama kali dan dapat dikembalikan.

Langkah ini dilakukan guna meminimalisir kerugian yang timbul sebagai umpan balik dari penyalahgunaan kartu single trip yang sudah melebihi batas, di mana sistem masuk dan keluar stasiun dirancang nyaris serupa dengan penggunaan kartu multi trip melalui mekanisme tapping di pintu masuk dan pintu keluar tanpa perlu memasukkan tiket ke dalam slot kartu. Sebagai tambahan, kartu ini dapat digunakan sebagai bukti untuk pembelian tiket berjaminan berikutnya tanpa perlu membayar biaya jaminan atau pengembalian biaya jaminan kartu dengan batas waktu 7 hari setelah pembelian terakhir, sehingga sangat berguna bagi pengguna tiket yang melakukan perjalanan berjangka (tidak setiap hari namun beberapa kali dalam 1 minggu).

Ketentuan selengkapnya mengenai penggunaan tiket harian berjaminan dapat dilihat pada hasil pemindaian dari brosur asli berikut ini.

Brosur 1

 Brosur 2

Desain tiket harian berjaminan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Desain tiket harian berjaminan (bagian muka)

Desain tiket harian berjaminan (bagian belakang)

Catatan: Klik setiap gambar untuk memperbesar tampilan dan/atau menyimpannya di kandar lokal Anda.

Keterangan desain bagian belakang:

1. Sisi kiri atas berisi ketentuan penggunaan tiket harian berjaminan.
2. Sisi kanan atas terdapat nomor identifikasi khusus untuk setiap tiket (untuk keperluan internal operator)
3. Sisi kiri bawah terdapat nomor seri tiket berupa 16 digit angka acak dan informasi kontak PT. KAI Commuter Jabodetabek.
4. Sisi kanan bawah terdapat bukti keaslian tiket berupa hologram atau cetakan khusus untuk mencegah pemalsuan kartu tiket.

Demikianlah informasi yang penulis sampaikan kali ini, semoga bermanfaat.

Sumber informasi dan ilustrasi:

PT. KAI Commuter Jabodetabek (Informasi Commuter Line)

2013-08-08

JR East E129 - JR東日本E129系

Pada kesempatan ini penulis membahas calon rangkaian JR East seri E129, yang diperkenalkan sebagai pengganti seri KRL JR East 115 yang sudah cukup berumur.

Rangkaian E129 yang dibahas kali ini menggunakan desain bodi yang berbasis seri E233 dan mengambil konsep dari E127, yang mana dirancang dengan skema modern mengikuti perkembangan perkeretaapian Jepang saat ini. Interior yang digunakan mengikuti prinsip "universal design" sesuai referensi dari Kawasaki Heavy Industries dan J-TREC.

Seri E129 memiliki beberapa perbedaan spesifik bila dibandingkan dengan E233 yang menjadi dasar desainnya, yaitu dengan konfigurasi 3 pintu di setiap sisinya, 1 pasang pintu masuk kabin masinis dari bodi samping, 1 pintu penghubung kabin masinis ke ruang penumpang dan 1 pintu di muka kabin untuk memudahkan persambungan antar rangkaian. Beralih ke bagian dalam, interior menggunakan kombinasi longitudinal seat & semi cross seat seperti seri 119 milik JR Central yang dilengkapi penampil jurusan model LCD pada bagian atas pintu. Sistem traksi penggerak yang digunakan berbasis VVVF (Variable Voltage Variable Frequency) dengan komponen utama IGBT (Insulated Gate Bipolar Transistor).

Berikut ini gambaran seri E129 dengan bodi stainless steel (sesuai dengan referensi dari pihak JR East):

 
Rancangan seri E129 - E129系 (画家印象)

Spesifikasi dasar sementara yang dimiliki adalah sebagai berikut:

1. Formasi/編成 : 2 kereta & 4 kereta/2 & 4両編成

2. Percepatan/起動加速度 : 3,3 km/h/s

3. Kecepatan operasional/営業最高速度 : 100 km/h

4. Kecepatan maksimum/設計最高速度 : 110 km/h

5. Perlambatan/減速度 :
- 3,5 km/h/s(biasa/常用最大)
- 4,5 km/h/s (darurat/非常)

6. Kapasitas rangkaian/編成定員 :
- 2 kereta/2両編成: 273 orang/人
- 4 kereta/2両編成: 581 orang/人

7. Panjang kereta/全長 : 20.000 mm (20 m)

8. Lebar kereta/全幅 : 2.950 mm (2,95 m)

9. Tinggi kereta/全高 : 3.620 mm (3,62 m)

10. Lebar rel/軌間 : 1.067 mm

11. Mode kelistrikan/電気方式 : 1.500 V DC sistem aliran atas (1.500 V 直流、架空電車線方式)

12. Pengendali/制御装置 : VVVF-IGBT Inverter Control/IGBT-VVVFインバータ制御方式

13. Tahun pembuatan/製造年 : 2013 (Heisei 25/平成25年)

Menurut dokumen referensi lainnya yang penulis peroleh, rangkaian dengan 2 kereta akan diproduksi sebanyak 30 set, dan rangkaian 4 kereta akan diproduksi sebanyak 25 set, dengan total unit mencapai 160 unit kereta.

Perkiraan konfigurasi rangkaian E129 adalah sebagai berikut:

a. Rangkaian 2 kereta

Kereta 1 (1号) : KuHa (クハ) E128 (TC)
Kereta 2 (2号) : KuMoHa (クモハ) E129 (MC)

b. Rangkaian 4 kereta

Kereta 1 (1号) : KuHa (クハ) E128 (TC)
Kereta 2 (2号) : MoHa (モハ) E129 (M2)
Kereta 3 (3号) : SaHa (サハ) E128 (T)
Kereta 4 (4号) : KuMoHa (クモハ) E129 (MC1)

Keterangan:

KuHa (クハ) TC = kereta pengikut tanpa motor traksi penggerak berkabin masinis, dilengkapi fasilitas toilet
MoHa (モハ) M2 = kereta tengah dengan motor traksi penggerak dan pantograf (alat pengambil arus dari kabel listrik aliran atas) model single arm sebanyak 1 buah
SaHa (サハ) T = kereta pengikut tanpa motor traksi penggerak
KuMoHa (クモハ) MC/MC1 = kereta berkabin masinis dengan motor traksi penggerak dan pantograf model single arm sebanyak 1 buah

Alokasi persebaran dari seri E129 ini adalah sebagai berikut:
  • lintas Joetsu: stasiun Minakami sampai stasiun Kunai
  • lintas Shinetsu Main Line: stasiun Naoetsu sampai stasiun Niigata
  • lintas Uetsu Main Line: stasiun Niitsu sampai stasiun Murakami
  • lintas Hakushin: stasiun Niigata sampai stasiun Shibata
  • lintas Echigo: stasiun Niigata sampai stasiun Kashiwazaki
  • lintas Yahiko: stasiun Higashi-sanjo sampai stasiun Yahiko
Demikianlah informasi ini penulis berikan, semoga bermanfaat.

Referensi: JR East Press Release

2013-08-07

[Pengumuman] Sistem Penjaminan Kartu Commet Single Trip

Berdasarkan informasi terkini yang penulis peroleh dari pihak PT. KAI Commuter Jabodetabek, dengan ini penulis memberitahukan bahwa mulai tanggal 20 Agustus mendatang akan diberlakukan sistem biaya penjaminan untuk setiap pembelian kartu tiket elektronik jenis single trip.

Wacana ini digulirkan sebagai upaya meminimalisasi kekurangan tiket elektronik jenis single trip akibat kehilangan atau terbawa pulang oleh pengguna, di mana biaya penjaminan diikutsertakan bersama dengan harga tiket yang sesungguhnya pada saat pembelian di loket stasiun keberangkatan.

Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sistem penjaminan tersebut memiliki prosedur berikut:
  1. Pengguna membeli tiket single trip untuk sekali perjalanan di loket stasiun keberangkatan, dengan harga sesuai tujuan (lihat tabel tarif parsial/progresif) + biaya penjaminan fisik tiket sebesar Rp 5.000 (lima ribu rupiah). Untuk diperhatikan, sistem biaya penjaminan hanya berlaku untuk 5 stasiun pertama terhitung dari stasiun keberangkatan, yang mana keseluruhan 5 stasiun pertama tersebut berlaku tarif sebesar Rp 2.000 (dua ribu rupiah).
  2. Pengguna melakukan perjalanan dengan KRL hingga stasiun tujuan (melakukan prosedur tapping masuk peron dari stasiun keberangkatan, pengecekan di dalam rangkaian dan memasukkan kartu ke mesin yang tersedia di pintu keluar stasiun tujuan).
  3. Biaya penjaminan fisik tiket dapat dikembalikan di loket stasiun tujuan dengan menunjukkan struk atau kertas bukti pembelian tiket dari stasiun keberangkatan, jika tiket untuk sekali perjalanan yang dibawa pengguna masih dapat terbaca oleh sistem pemindai tiket yang ada di pintu keluar.
Catatan penting:

Klaim biaya penjaminan fisik tiket tersebut berlaku selama 7 (tujuh) hari berturut-turut sejak pembelian. Apabila setelah 7 hari pengguna yang bersangkutan tidak melakukan prosedur pengembalian biaya jaminan di loket stasiun tujuan, maka biaya tersebut dianggap hangus (masuk ke kas loket stasiun tujuan) dan tidak dapat diuangkan. Dengan kata lain, apabila pengguna tidak mengklaim biaya penjaminan selama waktu yang ditentukan, maka untuk setiap keberangkatan menggunakan tiket sekali perjalanan dengan tujuan salah satu dari 5 stasiun pertama setelah melewati 7 hari akan kembali dibebankan biaya tersebut di atas.

Sistem penjaminan ini juga tidak berlaku bagi pengguna tiket multi trip yang dapat melakukan isi ulang, mengingat biaya penjaminan yang merupakan biaya pembuatan/produksi kartu tiket sudah termasuk dalam pembelian paket perdana dan untuk selanjutnya kartu multi trip tersebut menjadi milik pengguna.

Demikianlah informasi ini penulis berikan, semoga bermanfaat.

Referensi: Tribunnews & Informasi Commuter Line

2013-07-25

Terima Kasih, KRL Ekonomi Non AC Jabodetabek (18 Juli 1976 - 25 Juli 2013)

Belum lama ini, penulis mendengar berita dari pengeras suara stasiun Bekasi yang mengabarkan bahwa operasional KRL ekonomi sudah ditiadakan mulai hari ini (25 Juli 2013), sebagai efek dari adanya subsidi operasional kepada layanan KRL dengan fasilitas AC dan pemberlakuan tarif progresif sesuai jumlah stasiun yang ditempuh.

Debut layanan KRL non AC sendiri dimulai sejak 18 Juli 1976 dengan didatangkannya KRL non AC dengan kondisi barang baru yang memiliki sistem traksi rheostatik dan berbodi baja ringan (mild steel), sehingga seringkali disebut sebagai rheostatik mild. Rangkaian jenis pertama ini memiliki 2 pintu di setiap sisinya, yang menggunakan desain serupa dengan jenis KRD MCW 301 dan memiliki 4 unit kereta untuk setiap rangkaian yang berkode seri KL3-76. Kemudian, secara berturut-turut mulai tahun 1978 didatangkan kembali jenis KRL serupa dari pabrikan Jepang yaitu Nippon Sharyo dengan kode seri KL3-78, KL3-83 dan KL3-84.

Seiring perkembangan masa, PJKA pada masa itu membutuhkan layanan KRL dengan kelas bisnis, sehingga didatangkan kembali KRL dengan traksi rheostatik namun menggunakan bodi stainless steel yang berkode masing-masing KL2-86 dan KL2-87 dengan fasilitas tambahan berupa toilet di kereta ujung berkabin masinis, di mana KL3-76 hingga KL3-84 diposisikan sebagai armada kelas ekonomi. Salah satu dari KRL rheostatik berbodi stainless kemudian dimutakhirkan dengan perangkat AC sehingga memiliki kode KL1, yang dioperasikan sebagai rangkaian Pakuan Utama setelah peresmian jalur layang dari stasiun Manggarai hingga stasiun Jakarta Kota.

Memasuki tahun 1992, armada KRL ekonomi bertambah dengan seri KRL buatan INKA yang bekerja sama dengan pabrikan Hyundai/ABB dengan desain dan formasi yang sama dengan KRL rheostatik berbodi stainless steel, perbedaannya terletak pada sistem traksi yang digunakan berupa VVVF-IGBT dan model pantograf yang digunakan berbentuk lengan tunggal (single arm). Namun, pada 2 tahun operasionalnya, KRL yang diproduksi 2 rangkaian tersebut mengalami kecelakaan yaitu benturan dengan KRL bisnis jenis BN/Holec di Kampung Bandan saat dioperasikan dalam 1 set rangkaian, sehingga dianggap tidak handal dan disimpan di Balai Yasa Manggarai.

Pada rentang 1994 hingga 2000, tidak terjadi penambahan armada KRL ekonomi, namun pada KRL bisnis terjadi penambahan armada dari INKA berupa rangkaian KRL BN/Holec (Belgie-Netherland / Holland Electric Ridderkerk) dan KRL Hitachi dengan sistem kerjasama dalam hal perakitan serta pemasangan komponen. Sayangnya, banyak KRL BN/Holec yang kemudian mengalami kerusakan dan gangguan selama pengoperasian sehingga jumlah rangkaian yang dapat dioperasikan di lintas menurun drastis.

Masa pengoperasian KRL rheostatik berbodi stainless, KRL BN/Holec dan KRL Hitachi sebagai KRL kelas eksekutif dan bisnis pun berakhir dengan dimulainya kedatangan rangkaian KRL eks Toei 6000 dengan status hibah dari pemerintah kota Tokyo di Jepang sebanyak 72 unit kereta. Seluruh fasilitas toilet pada KRL rheostatik stainless pun dihilangkan, begitu juga model kursi yang saling berhadapan pada KRL BN/Holec dan Hitachi diubah seluruhnya menjadi model melintang atau transverse seat. Dengan demikian, maka seluruh set tersebut bergabung dengan armada KRL rheostatik dengan bodi mild steel, kecuali Hyundai/ABB yang hanya bertahan beberapa bulan saja setelah kembali ke lintas.

Datangnya KRL AC impor dari Jepang secara berturut-turut membuat posisi KRL rheostatik stainless, KRL BN/Holec dan KRL Hitachi berada pada keadaan beban yang sedemikian berat, beban ini dirasakan sekali oleh KRL BN/Holec sehingga pada tahun 2011 operasinya terhenti sepenuhnya dan beberapa unit yang lebih dulu tak beroperasi dijadikan KRDE untuk operasional di daerah lain yang tidak dielektrifikasi bersama dengan KRL Hyundai yang lebih dulu tak dapat dioperasikan di Jabodetabek. Di lain pihak, KRL rheostatik mild maupun stainless sendiri selama ini mengalami beban rangkaian berlebih pada jam sibuk, sehingga seringkali mengalami gangguan dalam perjalanan reguler.

Pada akhirnya, jadwal operasi terakhir untuk KRL ekonomi telah dilakukan pada 24 Juli yang lalu, di mana jadwal perjalanannya terus menerus digantikan dengan KRL AC atau dikenal dengan commuter line dengan tarif yang disesuaikan dengan jarak perjalanan pengguna. Sampai saat tulisan ini dimuat, seluruh KRL ekonomi sudah berada di dalam lingkungan dipo, PUKRL atau balai yasa, menunggu keputusan berikutnya dari PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sebagai operator.

Berikut ini beberapa jenis KRL ekonomi semasa operasinya di lintas Jabodetabek:

1. Rheostatik mild steel KL3-76~84

KL3-76, corak merah-biru

KL3-78~84, orak hijau-putih

KL3-78~84, corak oranye

 KL3-78~84, corak hijau


KL3-78~84, corak putih

 KL3-78~84, corak putih kabin modifikasi (Djoko Lelono 1)

2. Rheostatik stainless steel KL3-86~87

KL2-86~87, corak merah tua

KL1-86 & KL2-86, corak biru (operasi KRL AC pertama)

KL3-86~87, corak merah-kuning

3. KRL BN/Holec Ridderkerk

KL3-94, corak biru

 KL3-97~2000, corak oranye

KL3-97~2000, corak merah kuning

4. KRL Hitachi

KL3-97, corak merah-kuning

5. KRL Hyundai/ABB (sekarang telah dimodifikasi menjadi KRDE)

KL3-92~93, corak merah-biru

(gambar ilustrasi dari berbagai sumber, terima kasih untuk mereka yang sudah mengabadikan gambar-gambar tersebut)

Dalam hal ini, lintas Tangerang adalah yang terlebih dahulu menghapus seluruh layanan KRL ekonomi non AC, yang mana kemudian diikuti oleh lintas Serpong, di mana yang terakhir kalinya mengoperasikan KRL ekonomi non AC adalah lintas Bogor dan Bekasi. Lintas menuju stasiun Tanjung Priok sendiri tidak pernah lagi dilayani KRL ekonomi non AC sejak ditutupnya lintas Ancol-Tanjung Priok pada masa 90-an.

Dengan terhentinya operasi KRL ekonomi non AC, beberapa rangkaian KL3-76~84 telah dikirimkan untuk dirucat dan beberapa unit lainnya sedang diupayakan dalam usaha preservasi, sementara KL3-86~87 & KRL Hitachi direncanakan untuk dimutakhirkan dengan perangkat AC. KL3-97~2000 sendiri sudah memiliki unit yang dimutakhirkan dengan fasilitas AC dan pembaharuan baik dari sisi eksterior maupun interior.

Demikian informasi yang dapat penulis sampaikan, semoga bermanfaat.

Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk layanan dan armada KRL ekonomi non AC yang sudah mencapai 37 tahun beroperasi melayani pengguna KRL di lintas Jabodetabek beserta Serpong.

Berita tambahan:

Mulai hari ini seluruh KA Patas kelas ekonomi tujuan Purwakarta dan KA lokal kelas ekonomi tujuan Cikampek tidak lagi berhenti di stasiun Bekasi, akan tetapi untuk kedua KA tersebut yang mengarah ke Jakarta Kota tetap berhenti di stasiun Bekasi.

2013-07-24

[Informasi] Jadwal KA Bandara Kuala Namu - Medan PP Per 25 Juli 2013

Berdasarkan informasi yang penulis peroleh dari wilayah Divisi Regional 1 Sumatera Utara, mulai besok (25 Juli 2013) akan dioperasikan layanan KA bandara Kuala Namu dengan relasi perhentian ujung (terminus) bandara Kuala Namu hingga stasiun Medan. Bandara Kuala Namu tersebut menggantikan fungsi bandara Polonia yang dinilai kurang layak lagi untuk pengoperasian pesawat komersial karena letaknya yang dekat dengan pemukiman penduduk, dengan kapasitas operasional yang sudah ditingkatkan untuk pelayanan sarana transportasi udara.

Untuk sementara ini, armada KA yang akan digunakan adalah 2 unit KRDE eks Kaligangsa Ekspres berwarna dominan merah dan putih dengan formasi masing-masing 5 unit kereta per rangkaian, sambil menunggu kedatangan pesanan armada KRD buatan Woojin Industries yang diproduksi di Korea Selatan. Tiket dapat dibeli di stasiun Medan dan lokasi bandara Kuala Namu dengan metode pembayaran kartu debit, kartu kredit atau kartu prabayar dari bank. Selain itu, KA ini juga melayani reservasi tempat duduk yang dapat dilakukan maksimal 7 hari sebelum hari keberangkatan. Tarif yang diberlakukan oleh PT. Railink sebagai pengelola layanan ini adalah Rp 80.000,- (delapan puluh ribu rupiah) untuk satu kali perjalanan per satu orang pengguna.

Berikut ini adalah jadwal perjalanan KA bandara Kuala Namu yang penulis peroleh:

1. Relasi Kuala Namu - Medan (nomor ganjil)


2. Relasi Medan - Kuala Namu (nomor genap)


Anda dapat menyimpan jadwal di atas dengan melakukan perintah "save as" pada peramban yang digunakan.

Catatan: 
Jadwal tersebut di atas berlaku mulai awal pengoperasian pada 25 Juli sampai dengan 31 Agustus mendatang, dan sewaktu-waktu dapat berubah.

Demikianlah informasi ini penulis berikan sebagaimana mestinya, semoga bermanfaat.

Sumber informasi tarif & layanan: Tribunnews