Selamat Datang! Anda adalah pengunjung ke - ようこそ! あなたは人目のお客様に:

2013-07-25

Terima Kasih, KRL Ekonomi Non AC Jabodetabek (18 Juli 1976 - 25 Juli 2013)

Belum lama ini, penulis mendengar berita dari pengeras suara stasiun Bekasi yang mengabarkan bahwa operasional KRL ekonomi sudah ditiadakan mulai hari ini (25 Juli 2013), sebagai efek dari adanya subsidi operasional kepada layanan KRL dengan fasilitas AC dan pemberlakuan tarif progresif sesuai jumlah stasiun yang ditempuh.

Debut layanan KRL non AC sendiri dimulai sejak 18 Juli 1976 dengan didatangkannya KRL non AC dengan kondisi barang baru yang memiliki sistem traksi rheostatik dan berbodi baja ringan (mild steel), sehingga seringkali disebut sebagai rheostatik mild. Rangkaian jenis pertama ini memiliki 2 pintu di setiap sisinya, yang menggunakan desain serupa dengan jenis KRD MCW 301 dan memiliki 4 unit kereta untuk setiap rangkaian yang berkode seri KL3-76. Kemudian, secara berturut-turut mulai tahun 1978 didatangkan kembali jenis KRL serupa dari pabrikan Jepang yaitu Nippon Sharyo dengan kode seri KL3-78, KL3-83 dan KL3-84.

Seiring perkembangan masa, PJKA pada masa itu membutuhkan layanan KRL dengan kelas bisnis, sehingga didatangkan kembali KRL dengan traksi rheostatik namun menggunakan bodi stainless steel yang berkode masing-masing KL2-86 dan KL2-87 dengan fasilitas tambahan berupa toilet di kereta ujung berkabin masinis, di mana KL3-76 hingga KL3-84 diposisikan sebagai armada kelas ekonomi. Salah satu dari KRL rheostatik berbodi stainless kemudian dimutakhirkan dengan perangkat AC sehingga memiliki kode KL1, yang dioperasikan sebagai rangkaian Pakuan Utama setelah peresmian jalur layang dari stasiun Manggarai hingga stasiun Jakarta Kota.

Memasuki tahun 1992, armada KRL ekonomi bertambah dengan seri KRL buatan INKA yang bekerja sama dengan pabrikan Hyundai/ABB dengan desain dan formasi yang sama dengan KRL rheostatik berbodi stainless steel, perbedaannya terletak pada sistem traksi yang digunakan berupa VVVF-IGBT dan model pantograf yang digunakan berbentuk lengan tunggal (single arm). Namun, pada 2 tahun operasionalnya, KRL yang diproduksi 2 rangkaian tersebut mengalami kecelakaan yaitu benturan dengan KRL bisnis jenis BN/Holec di Kampung Bandan saat dioperasikan dalam 1 set rangkaian, sehingga dianggap tidak handal dan disimpan di Balai Yasa Manggarai.

Pada rentang 1994 hingga 2000, tidak terjadi penambahan armada KRL ekonomi, namun pada KRL bisnis terjadi penambahan armada dari INKA berupa rangkaian KRL BN/Holec (Belgie-Netherland / Holland Electric Ridderkerk) dan KRL Hitachi dengan sistem kerjasama dalam hal perakitan serta pemasangan komponen. Sayangnya, banyak KRL BN/Holec yang kemudian mengalami kerusakan dan gangguan selama pengoperasian sehingga jumlah rangkaian yang dapat dioperasikan di lintas menurun drastis.

Masa pengoperasian KRL rheostatik berbodi stainless, KRL BN/Holec dan KRL Hitachi sebagai KRL kelas eksekutif dan bisnis pun berakhir dengan dimulainya kedatangan rangkaian KRL eks Toei 6000 dengan status hibah dari pemerintah kota Tokyo di Jepang sebanyak 72 unit kereta. Seluruh fasilitas toilet pada KRL rheostatik stainless pun dihilangkan, begitu juga model kursi yang saling berhadapan pada KRL BN/Holec dan Hitachi diubah seluruhnya menjadi model melintang atau transverse seat. Dengan demikian, maka seluruh set tersebut bergabung dengan armada KRL rheostatik dengan bodi mild steel, kecuali Hyundai/ABB yang hanya bertahan beberapa bulan saja setelah kembali ke lintas.

Datangnya KRL AC impor dari Jepang secara berturut-turut membuat posisi KRL rheostatik stainless, KRL BN/Holec dan KRL Hitachi berada pada keadaan beban yang sedemikian berat, beban ini dirasakan sekali oleh KRL BN/Holec sehingga pada tahun 2011 operasinya terhenti sepenuhnya dan beberapa unit yang lebih dulu tak beroperasi dijadikan KRDE untuk operasional di daerah lain yang tidak dielektrifikasi bersama dengan KRL Hyundai yang lebih dulu tak dapat dioperasikan di Jabodetabek. Di lain pihak, KRL rheostatik mild maupun stainless sendiri selama ini mengalami beban rangkaian berlebih pada jam sibuk, sehingga seringkali mengalami gangguan dalam perjalanan reguler.

Pada akhirnya, jadwal operasi terakhir untuk KRL ekonomi telah dilakukan pada 24 Juli yang lalu, di mana jadwal perjalanannya terus menerus digantikan dengan KRL AC atau dikenal dengan commuter line dengan tarif yang disesuaikan dengan jarak perjalanan pengguna. Sampai saat tulisan ini dimuat, seluruh KRL ekonomi sudah berada di dalam lingkungan dipo, PUKRL atau balai yasa, menunggu keputusan berikutnya dari PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sebagai operator.

Berikut ini beberapa jenis KRL ekonomi semasa operasinya di lintas Jabodetabek:

1. Rheostatik mild steel KL3-76~84

KL3-76, corak merah-biru

KL3-78~84, orak hijau-putih

KL3-78~84, corak oranye

 KL3-78~84, corak hijau


KL3-78~84, corak putih

 KL3-78~84, corak putih kabin modifikasi (Djoko Lelono 1)

2. Rheostatik stainless steel KL3-86~87

KL2-86~87, corak merah tua

KL1-86 & KL2-86, corak biru (operasi KRL AC pertama)

KL3-86~87, corak merah-kuning

3. KRL BN/Holec Ridderkerk

KL3-94, corak biru

 KL3-97~2000, corak oranye

KL3-97~2000, corak merah kuning

4. KRL Hitachi

KL3-97, corak merah-kuning

5. KRL Hyundai/ABB (sekarang telah dimodifikasi menjadi KRDE)

KL3-92~93, corak merah-biru

(gambar ilustrasi dari berbagai sumber, terima kasih untuk mereka yang sudah mengabadikan gambar-gambar tersebut)

Dalam hal ini, lintas Tangerang adalah yang terlebih dahulu menghapus seluruh layanan KRL ekonomi non AC, yang mana kemudian diikuti oleh lintas Serpong, di mana yang terakhir kalinya mengoperasikan KRL ekonomi non AC adalah lintas Bogor dan Bekasi. Lintas menuju stasiun Tanjung Priok sendiri tidak pernah lagi dilayani KRL ekonomi non AC sejak ditutupnya lintas Ancol-Tanjung Priok pada masa 90-an.

Dengan terhentinya operasi KRL ekonomi non AC, beberapa rangkaian KL3-76~84 telah dikirimkan untuk dirucat dan beberapa unit lainnya sedang diupayakan dalam usaha preservasi, sementara KL3-86~87 & KRL Hitachi direncanakan untuk dimutakhirkan dengan perangkat AC. KL3-97~2000 sendiri sudah memiliki unit yang dimutakhirkan dengan fasilitas AC dan pembaharuan baik dari sisi eksterior maupun interior.

Demikian informasi yang dapat penulis sampaikan, semoga bermanfaat.

Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk layanan dan armada KRL ekonomi non AC yang sudah mencapai 37 tahun beroperasi melayani pengguna KRL di lintas Jabodetabek beserta Serpong.

Berita tambahan:

Mulai hari ini seluruh KA Patas kelas ekonomi tujuan Purwakarta dan KA lokal kelas ekonomi tujuan Cikampek tidak lagi berhenti di stasiun Bekasi, akan tetapi untuk kedua KA tersebut yang mengarah ke Jakarta Kota tetap berhenti di stasiun Bekasi.

2013-07-24

[Informasi] Jadwal KA Bandara Kuala Namu - Medan PP Per 25 Juli 2013

Berdasarkan informasi yang penulis peroleh dari wilayah Divisi Regional 1 Sumatera Utara, mulai besok (25 Juli 2013) akan dioperasikan layanan KA bandara Kuala Namu dengan relasi perhentian ujung (terminus) bandara Kuala Namu hingga stasiun Medan. Bandara Kuala Namu tersebut menggantikan fungsi bandara Polonia yang dinilai kurang layak lagi untuk pengoperasian pesawat komersial karena letaknya yang dekat dengan pemukiman penduduk, dengan kapasitas operasional yang sudah ditingkatkan untuk pelayanan sarana transportasi udara.

Untuk sementara ini, armada KA yang akan digunakan adalah 2 unit KRDE eks Kaligangsa Ekspres berwarna dominan merah dan putih dengan formasi masing-masing 5 unit kereta per rangkaian, sambil menunggu kedatangan pesanan armada KRD buatan Woojin Industries yang diproduksi di Korea Selatan. Tiket dapat dibeli di stasiun Medan dan lokasi bandara Kuala Namu dengan metode pembayaran kartu debit, kartu kredit atau kartu prabayar dari bank. Selain itu, KA ini juga melayani reservasi tempat duduk yang dapat dilakukan maksimal 7 hari sebelum hari keberangkatan. Tarif yang diberlakukan oleh PT. Railink sebagai pengelola layanan ini adalah Rp 80.000,- (delapan puluh ribu rupiah) untuk satu kali perjalanan per satu orang pengguna.

Berikut ini adalah jadwal perjalanan KA bandara Kuala Namu yang penulis peroleh:

1. Relasi Kuala Namu - Medan (nomor ganjil)


2. Relasi Medan - Kuala Namu (nomor genap)


Anda dapat menyimpan jadwal di atas dengan melakukan perintah "save as" pada peramban yang digunakan.

Catatan: 
Jadwal tersebut di atas berlaku mulai awal pengoperasian pada 25 Juli sampai dengan 31 Agustus mendatang, dan sewaktu-waktu dapat berubah.

Demikianlah informasi ini penulis berikan sebagaimana mestinya, semoga bermanfaat.

Sumber informasi tarif & layanan: Tribunnews

2013-07-18

[Informasi] Selamat Jalan, KRL Ekonomi Rheostatik KL3-76~84...

Belum lama ini penulis telah menerima kabar bahwa 2 set rangkaian KRL ekonomi jenis rheostatik non AC dengan bodi mild steel dengan masing-masing set terdiri dari 4 unit kereta telah dibawa ke Purwakarta untuk segera dilakukan perucatan bersama dengan unit kereta penumpang dan KRD yang sudah tidak lagi dapat dioperasikan.

Rangkaian dibawa dengan menggunakan lokomotif CC 20175R (CC 201 89 03) dari lingkungan stasiun Manggarai menuju Purwakarta dengan formasi terhitung dari belakang lokomotif adalah KL3-83124, KL3-76103, KL3-83113, KL3-78118, KL3-84112, KL3-83101, KL3-78103, KL3-83114. Dua unit kereta penumpang yaitu KMP3 0 09 01 dan KMP3 0 07 01 masing-masing disisipkan di antara kedua rangkaian dan ujung rangkaian untuk membantu pengereman.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa keseluruhan rangkaian sudah tidak lagi memiliki kursi dan tiang penyangga untuk pengguna berdiri pada bagian interior, namun masih menyisakan peta rute KRL dan beberapa tanda lainnya. Berbagai komponen traksi pun juga masih berada pada tempatnya, meskipun tidak sedikit juga komponen pendukung yang telah dihilangkan.

Berikut ini sedikit gambaran eksterior dan interior rangkaian yang berstatus afkir tersebut:

Eksterior

Interior

Sumber dokumentasi: Khairul Rahman

Dengan dikirimnya 2 set rangkaian KRL ini untuk proses perucatan, maka jumlah armada KRL non AC yang tersedia secara bertahap akan dimutakhirkan ke jenis KRL dengan fasilitas AC atau dirucat, di mana rencananya jenis KRL non AC akan dihapus total yang berlaku efektif mulai bulan September yang akan datang.

Demikianlah informasi ini penulis sampaikan, semoga bermanfaat.

Pemutakhiran/update per 19 Juli 2013:

Rangkaian kedua, dengan formasi terhitung dari belakang lokomotif adalah KL3-83112, KL3-76105, KL3-83103, KL3-83104, KL3-84114, KL3-76113, KL3-78115 dan KL3-84116 yang ditarik lokomotif CC 201109 (CC 201 92 19) saat ini telah dibawa ke stasiun Purwakarta untuk dilakukan perucatan seperti halnya rangkaian pertama dengan sisipan KMP3 0 09 01 dan KP3 0 64 02 di bagian tengah dan akhir rangkaian sebagai unit bantu rem.

2013-07-17

[Informasi] Kecelakaan KA Bangunkarta di Sragen

Pada hari ini (17 Juli 2013) sekitar pukul 04.00 WIB, telah terjadi kecelakaan yang melibatkan rangkaian KA Bangunkarta relasi stasiun Gambir-Madiun-Jombang yang ditarik lokomotif CC 20312 (CC 203 95 12) dengan sebuah truk Mitsubishi Fuso pengangkut gulungan kertas yang akan menuju salah satu pabrik kertas di Boyolali dengan nomor tanda pengenal kendaraan S 8167 US pada perlintasan sebidang berkode PJL 74 berpalang pintu di daerah Beloran, Sragen Kulon. Kecelakaan bermula dari truk yang dikemudikan oleh sopir Fery Prasetyo dan kernetnya Darmawan tersebut berusaha melewati perlintasan sebidang ketika mendadak truk mengalami masalah patahnya as roda depan di tengah-tengah bidang perlintasan antara jalan raya dengan kereta api tersebut, sehingga kedua kru berinisiatif mengevakuasi badan truk yang mana pada proses tersebut truk dibiarkan melintang di tengah-tengah perlintasan dengan asumsi tidak ada kereta api yang melintas.

Namun, pada waktu yang telah disebutkan di atas muncul kereta api eksekutif Bangunkarta dari arah barat dengan kecepatan yang cukup tinggi di mana masinis yang bertugas saat itu tidak mampu menghindari benturan karena jarak pengereman yang terlalu pendek, sehingga menyebabkan badan truk terseret sejauh hampir 100 meter ke arah timur dan isi muatan truk tercecer keluar di sekitar lokasi. Masinis Adi Suminto mengalami cedera serius berupa retak pada tulang kaki karena terjepit bodi lokomotif yang kabin masinisnya hancur (pada saat kejadian lokomotif dijalankan dengan posisi kabin masinis di muka atau short hood), sementara asistennya Lutfi menderita luka-luka bertaraf sedang dan mengalami masalah sesak nafas. Masinis dan asistennya tersebut masing-masing segera dibawa ke rumah sakit Grobogan dan Amal Sehat untuk menjalani perawatan intensif. Di lain pihak, sopir dan kernet truk tidak mengalami luka-luka karena berada di luar daerah terdampak benturan.

Kerusakan yang dilaporkan dari lokasi sejauh ini adalah sebagai berikut:
  • Lokomotif penarik = kerusakan serius pada muka kabin masinis
  • Kereta bagasi dengan genset pembangkit listrik (BP) = kerusakan sedang, terdapat lecet-lecet pada bodi bagian persambungan dengan lokomotif di dekat pintu
  • Kereta penumpang & restorasi = tidak terdapat kerusakan berarti

CC 20312, sesaat setelah kejadian

Hingga saat tulisan ini diterbitkan, proses evakuasi masih berlangsung dengan bantuan crane yang berjalan di rel dan mobil derek untuk memindahkan muatan kertas dan truk yang tertabrak ke tempat yang lebih aman sampai jalur kereta api dapat dilalui kembali.

Demikian informasi ini penulis sampaikan, semoga bermanfaat.

Sumber gambar: Pato Gie Desmosedici @ grup semboyan35.com

Sumber referensi: Solo Pos Online

2013-07-16

[Topik Khusus] Tragedi Bintaro 19 Oktober 1987

Pada kesempatan ini penulis akan memberikan penjelasan yang cukup lengkap seputar tragedi kecelakaan kereta api terbesar dalam sejarah perkeretaapian Indonesia yaitu tragedi kecelakaan kereta api di Bintaro pada tanggal 19 Oktober 1987, dari sudut pandang yang sama sekali berbeda dari tulisan-tulisan yang sudah pernah ada dan tersebar luas di ranah maya ini.

Penulis berharap supaya tulisan ini tidak disalin dengan sembarangan, tetapi jadikanlah sebagai perenungan untuk mengambil hikmat dan manfaat dari peristiwa yang telah terjadi di masa lalu sebagai batu loncatan bagi perkembangan di masa kini dan yang akan datang.

Tulisan ini secara struktur terbagi menjadi 7 bagian utama, dengan garis besar keseluruhan mencakup awal mula, saat-saat menentukan dan pengaruh pasca kecelakaan.

1. Keadaan Sekitar Lokasi Kecelakaan

Telah menjadi pengetahuan khalayak umum bahwa lokasi kecelakaan berada di antara stasiun Sudimara dan stasiun Kebayoran Lama (umumnya hanya disebut sebagai Kebayoran saja), tepatnya di antara tikungan berganda berbentuk huruf "S" pada posisi kilometer 17 + 252 m dari stasiun Tanah Abang, kurang lebih berjarak 8 kilometer dari stasiun Sudimara. Di sekitar lokasi terdapat 1 perlintasan sebidang yang berjarak 200 meter dari lokasi, gedung SMA Negeri 86 Bintaro, satu gedung SD, pemakaman Tanah Kusir dan beberapa rumah penduduk, di mana posisi tikungan terhalangi oleh sebuah bukit kecil (sekarang bukit tersebut sudah diratakan untuk pembangunan jalur ganda yang diresmikan mulai 2007). Saat ini di antara stasiun Sudimara dan Kebayoran Lama telah dibangun stasiun Pondok Ranji dan Jurang Mangu yang keduanya merupakan bangunan baru, dan telah ada jalan tol Ulujami-Serpong serta jalan tol lingkar luar Jakarta (JORR) yang letaknya tidak terlalu jauh.

2. Sarana dan Prasarana

Kondisi sarana dan prasarana pada masa di mana kecelakaan terjadi adalah sebagai berikut:
  • Model jalur: lajur tunggal (single track).
  • Sistem persinyalan: mekanik penuh, dikendalikan dari masing-masing stasiun oleh kepala stasiun setempat.
  • Elektrifikasi: tidak ada (peresmian elektrifikasi lintas Tanah Abang-Serpong-Maja baru dilakukan di masa pengelolaan PT. Kereta Api Indonesia (Persero), di mana kecelakaan terjadi pada masa pengelolaan Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA)).
  • Sarana yang digunakan: kereta penumpang kelas ekonomi atau K3 warna abu-abu atau hijau bercampur putih dengan tahun pembuatan bervariasi antara 1960 sampai 1980 yang ditarik lokomotif diesel hidrolik buatan Henschnel Kassel (pabrikan asal Jerman) berjenis BB 303 atau BB 306 yang masing-masing berdaya mesin 1010 dk/HP dan 850 dk/HP. Satu rangkaian KA ekonomi dapat memiliki 5 hingga 8 unit kereta.
  • Nomor rangkaian menggunakan format 2xx, mengingat pertimbangan alokasi jumlah perjalanan KA pada saat itu.
Rangkaian yang terlibat memiliki konfigurasi sebagai berikut:

a. KA 225 (KA lokal relasi Rangkasbitung - Tanah Abang)

Lokomotif penarik: BB 30316, posisi ujung pendek berkabin masinis (short hood) di muka
Formasi: 8 unit kereta ekonomi jenis K3 dalam 1 rangkaian (sebagian besar adalah K3 buatan tahun 1960-an dengan model pintu daun ganda)
Jumlah penumpang: kurang lebih 700 orang (melebihi batas toleransi kapasitas 25% dari jumlah tempat duduk)
Sifat layanan: Berhenti di setiap stasiun
Masinis: Slamet Suradio
Juru api/asisten masinis: Soleh
Kondektur/KP: Adung Syafei
Stasiun posisi terakhir: Sudimara, jalur 1 (jalur lurus/lacu menghadap langsung ke jalur utama yang digunakan KA dari kedua arah secara bergantian.)

b. KA 220 (Patas Ekonomi relasi Tanah Abang - Merak)

Lokomotif penarik: BB 30616, posisi ujung pendek berkabin masinis (short hood) di muka
Formasi: 8 unit kereta ekonomi jenis K3 dalam 1 rangkaian (serupa jenisnya dengan KA 225, hanya berbeda nomor urutnya)
Jumlah penumpang: kurang lebih 500 orang
Sifat layanan: Perjalanan langsung, berhenti di stasiun-stasiun besar dengan banyak jalur yang tersedia
Masinis: Amung Sunarya
Juru api/asisten masinis: Mujiono
Kondektur/KP: Tidak diketahui
Stasiun posisi terakhir: Kebayoran Lama, jalur 2 (jalur ini berbelok ke jalur 1/jalur utama melalui sistem wesel yang dioperasikan dengan kendali petugas setempat.)

BB 30609 (kiri) bersama BB 30316 (kanan) yang terlibat tabrakan

3. Proses Keberangkatan & Kondisi Stasiun Persilangan

Proses keberangkatan KA 225 dimulai dari stasiun Rangkasbitung, yang mana rangkaian KA berhenti di setiap stasiun untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Perjalanan hingga stasiun Serpong berlangsung lancar dengan semboyan 41 yang terkendali. Demikian juga halnya dengan KA 220 yang diberangkatkan dari stasiun awal Tanah Abang dan melintas langsung di beberapa stasiun antara, tidak ada kendala berarti hingga rangkaian memasuki stasiun Kebayoran Lama untuk menunggu persilangan. Dari stasiun Serpong, KA 225 diberangkatkan dengan prosedur normal hingga mencapai stasiun Sudimara yang dijadwalkan tiba pada pukul 06.40 WIB dan melewatkan KA 220 yang prioritasnya lebih tinggi pada pukul 06.49 WIB. Namun pada kenyataannya KA 225 terlambat kurang lebih 5 menit dari jadwal, sehingga tiba di Sudimara pada pukul 06.45 WIB.

Stasiun Sudimara pada saat itu memiliki 3 jalur (1 jalur lurus dan 2 jalur belok), di mana kondisi pada saat tunggu persilangan adalah sebagai berikut:

Jalur 1 = KA 225 dari Serpong, tiba pukul 06.45 WIB (keterlambatan 5 menit);
Jalur 2 = KA barang PT. Indocement dengan formasi 1 lokomotif (tidak diketahui jenis dan nomor serinya) dan beberapa gerbong pengangkut semen menuju stasiun Tanah Abang yang ikut menunggu persilangan;
Jalur 3 = KA barang lainnya (tidak jelas barang apa yang diangkut), menunggu lokomotif penarik.

Stasiun Kebayoran Lama, yang juga memiliki 3 jalur seperti halnya Sudimara, memiliki kondisi saat tunggu persilangan sebagai berikut:

Jalur 1 = kosong (dipergunakan untuk melewatkan KA dari arah hulu/barat);
Jalur 2 = KA 220 dari Tanah Abang, tiba sekitar pukul 06.35 WIB;
Jalur 3 = tidak diketahui kondisi isi/kosong.

4. Tahap Menuju Bencana

Keadaan mulai menghangat setelah kepala stasiun (dan PPKA) stasiun Serpong menyadari bahwa telah terjadi kesalahan prosedur pemberangkatan setelah KA 225 diberangkatkan, di mana kepala stasiun yang bertugas lupa mengecek keadaan jalur kepada kepala stasiun Sudimara, sehingga KA 225 yang terlambat tiba 5 menit dari jadwal tersebut memasuki jalur 1 atau jalur lurus, yang seharusnya dikosongkan untuk melewatkan KA 220.

Akibatnya, ketiga jalur Sudimara yang terisi penuh menyebabkan KA 220 tidak dapat dilewatkan, sehingga petugas pemberangkatan KA (PPKA) Sudimara saat itu, Djamhari, segera memberikan surat perintah pemindahan tempat persilangan (PTP) kepada masinis KA 225, yaitu Slamet Suradio di mana persilangan dipindahkan dari stasiun Sudimara ke stasiun Kebayoran Lama.

Setelah masinis menerima PTP tersebut dan menerima prosedur keberangkatan normal berupa semboyan 41 dan 40 dari Djamhari yang disaksikan Soleh, Adung dan juru langsir, KA 225 membunyikan semboyan tanda keberangkatan atau semboyan 35 untuk memulai perjalanan menuju stasiun Kebayoran pada pukul 07.00 WIB, barulah PPKA stasiun Sudimara berinisiatif memberitahukan perihal PTP tersebut kepada PPKA stasiun Kebayoran Lama yang bertugas saat itu.

Namun, di saat yang hampir bersamaan setelah keberangkatan KA 225, Umrihadi, yang baru saja menggantikan dinas PPKA Kebayoran Lama sebelumnya yang menerima berita PTP tersebut, menganggap bahwa KA 220 yang memiliki prioritas lebih tinggi tetap dilewatkan di stasiun Sudimara meskipun PPKA yang bertugas sebelumnya telah memberitahu yang bersangkutan tentang adanya permintaan PTP untuk memasukkan KA 225 terlebih dahulu di stasiun Kebayoran Lama, kemudian barulah KA 220 diberangkatkan ke arah stasiun Sudimara. Melalui prosedur semboyan normal, ia memberangkatkan KA 220 yang menunggu di jalur 2 tanpa memberitahu Djamhari terlebih dahulu. Sesudah memastikan KA 220 mulai menjauh, barulah ia memberitahu Djamhari 5 menit kemudian.

Djamhari yang menerima berita keberangkatan KA 220 tersebut tanpa izin darinya seketika panik, dan berusaha memberitahu Slamet secara visual melalui sinyal keluar mekanik stasiun Sudimara ke arah Tanah Abang yang dinaikturunkan berulang-ulang ke posisi "stop". Namun karena padatnya penumpang yang berada di bagian depan lokomotif, Slamet dan asistennya tidak menghiraukan pemberitahuan tersebut dan tetap melaju. Melihat usahanya memberitahu masinis tak berhasil, Djamhari dibantu beberapa petugas PPKA lain segera berlari keluar area stasiun dengan membawa bendera merah atau semboyan 3 untuk mengejar KA 225 yang semakin menjauh. Tidak hanya itu saja, ada petugas yang berusaha mengejar KA 225 dengan menggunakan sepeda motor, juga membawa semboyan yang sama. Beberapa penumpang yang tertinggal terlihat ikut panik dan memberitahu potensi benturan kepada staf yang masih berjaga di stasiun.

Pada akhirnya, seluruh usaha Djamhari dan mereka yang ikut berlari mengejar KA 225 pun sia-sia. Kecepatan KA 225 yang diperkirakan melaju sekitar 60 kilometer/jam itu melenggang bebas, tanpa bisa dihentikan. Petugas yang berusaha dengan sepeda motor pun terkendala kondisi lalu lintas yang macet karena mendekati jam masuk kerja para karyawan. Seketika Djamhari pingsan di atas rel karena kelelahan sambil meneteskan air mata, di mana petugas yang ikut bersamanya membawanya kembali ke stasiun Sudimara.

Di lain pihak, Umrihadi yang tidak mengetahui keberangkatan KA 225 bersikap seperti biasanya, yang tanpa disadarinya KA 220 yang baru saja diberangkatkan tersebut berada pada satu lajur rel yang sama dengan KA 225 yang melaju dari arah berlawanan. Djamhari sendiri tidak memberitahukan keberangkatan KA 225 saat itu juga karena berada dalam kondisi yang genting, mengingat dialah yang meminta izin terlebih dahulu kepada PPKA Kebayoran Lama sebelum terjadi pergantian shift.

Berdasarkan deskripsi di atas, maka kesalahan utama terletak pada kelalaian PPKA stasiun Kebayoran Lama dalam menerima permintaan PTP dari PPKA Sudimara, yang mana sangat berbeda dari opini khalayak umum dan sumber-sumber lain di ranah maya bahwa kesalahan utama berada pada masinis KA 225 yang memberangkatkan KA secara instan tanpa prosedur resmi dari PPKA Sudimara.

5. Detik-detik Sebelum dan Sesudah Benturan

Dalam satu lajur yang sama, KA 225 dan KA 220 berjalan tanpa hambatan seperti hari-hari sebelumnya tanpa saling mengetahui posisi satu sama lain, karena saat itu belum ada fasilitas radio komunikasi di lokomotif yang digunakan seperti saat ini. Seluruh penumpang di kedua KA juga tidak mengetahui apa yang telah terjadi di stasiun asal keberangkatan.

Djamhari, yang kondisinya mulai membaik, setelah menghubungi Umrihadi mengenai permasalahan kedua KA ia berusaha memberitahu petugas perlintasan sebidang dengan kode PJL 57A atau dikenal dengan PJL Pondok Betung dengan memberikan semboyan genta perlintasan sebagai peringatan kepada masinis KA 220 yang akan melewati perlintasan tersebut. Akan tetapi, petugas PJL 57A sendiri awalnya mengira bahwa genta tersebut dibunyikan sebagai percobaan (beberapa sumber lain menyebutkan bahwa pada saat investigasi pasca kecelakaan didapati bukti bahwa petugas PJL 57A sama sekali tidak mengerti atau memahami semboyan genta perlintasan), sehingga KA 220 dilewatkan begitu saja tanpa tindakan pencegahan apapun.

Memasuki daerah lengkung berganda berbentuk huruf "S" yang di sekitarnya terdapat rerimbunan pohon yang lebat dan sebuah bukit kecil, Slamet yang berada di kabin lokomotif KA 225 membunyikan semboyan 35 sebagai tanda peringatan dan menurunkan kecepatan dari 50 km/jam hingga 25 km/jam karena melewati tikungan tajam, tetapi pada saat itu mendadak lokomotif KA 220 muncul dari balik tikungan arah Kebayoran dengan kecepatan sekitar 40 km/jam. Menyadari datangnya bahaya, penumpang yang berada di bagian depan dan samping lokomotif KA 225 berusaha menyelamatkan diri dengan melompat ke tanah di sekitar rel, sementara Slamet yang masih berusaha mengerem laju lokomotif yang dikendalikannya kemudian berjongkok bersama asisten KA 225 di bagian bawah kaca lokomotif. Akan tetapi di lain pihak, Amung beserta asistennya di kabin masinis lokomotif KA 220 bernasib sebaliknya, tak sempat mengerem dan menyelamatkan diri.

Dalam hitungan detik, benturan hebat kedua KA pun terjadi pada pukul 07.10 WIB tepatnya pada posisi kilometer 18 +75 m, dan kereta pertama dari depan pada masing-masing rangkaian melompat dari rel hingga menghancurkan komponen mesin kedua lokomotif, yang disebut sebagai "efek teleskopik". Kerusakan terparah dialami oleh dua unit kereta terdepan dari setiap rangkaian, di mana bagian kipas radiator lokomotif yang masih aktif menghancurkan tubuh beberapa penumpang yang berada pada kedua unit tersebut dan banyak anggota tubuh penumpang naas yang terjepit bodi kereta sehingga menimbulkan bau anyir darah yang dirasakan oleh penumpang lainnya yang selamat maupun masyarakat sekitar dan petugas yang menolong para korban.

Berikut ini kondisi kedua rangkaian KA beberapa saat setelah benturan dan selama proses evakuasi:










Begitu hebatnya kerusakan yang ditimbulkan dari efek benturan seperti dinyatakan pada gambar-gambar tersebut, sehingga mengakibatkan tewasnya kurang lebih 70 orang di tempat kejadian, lebih dari 200 orang tercatat meninggal selama perjalanan dan setelah menjalani perawatan di rumah sakit serta sekitar 300 orang lainnya menderita tingkat cedera ringan hingga cedera serius pada anggota tubuh. Sudah barang tentu sisa-sisa anggota tubuh baik yang terpotong akibat benturan maupun karena amputasi sempat memenuhi bagian dalam sarana yang mengalami kerusakan. Korban tewas maupun luka-luka yang didapati pada sarana kereta kemudian segera dibawa ke berbagai rumah sakit di Jakarta, salah satunya adalah RS Cipto Mangunkusumo untuk dilakukan perawatan yang semestinya.

6. Upaya Pasca Kecelakaan

Proses evakuasi yang berlangsung rumit karena harus melalui berbagai tahap pemotongan unit yang rusak untuk mencari dan mengeluarkan seluruh korban yang terjepit dilakukan selama 2 hari berturut-turut dengan menggunakan kereta penolong jenis NR milik dipo Jatinegara yang didominasi warna putih dengan strip oranye dan hijau, crane Si Bongkok dan beberapa peralatan khusus lainnya yang dioperasikan oleh pegawai PJKA. Selama proses evakuasi dan pembersihan unit sarana yang terlibat kecelakaan, perjalanan KA dari kedua arah terhenti untuk sementara waktu. Sumber lain menyebutkan bahwa crane uap Si Bongkok sempat mengalami anjlok saat kembali ke dalam lingkungan Balai Yasa Manggarai.

Salah satu lokomotif yang terlibat benturan langsung dibawa ke Balai Yasa Pengok di Yogyakarta untuk menjalani proses perucatan dengan menyisakan blok radiator salah satu lokomotif yang kondisinya hancur, sementara semua unit kereta yang ringsek dibawa ke Balai Yasa Manggarai. Unit lokomotif lainnya bahkan sempat dijadikan pajangan di lingkungan Balai Yasa Manggarai untuk beberapa waktu lamanya sebelum ikut dirucat atau dibesituakan bersama dengan unit-unit kereta lainnya yang tidak dapat diperbaiki.

Selain proses evakuasi korban dan pembersihan jalur dari sisa-sisa sarana yang mengalami kecelakaan, upaya melalui jalur hukum mulai dilakukan terhadap pihak-pihak yang dianggap memenuhi unsur kelalaian sehingga mengakibatkan terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan kematian penumpang, di mana Slamet Suradio sebagai masinis KA 225 divonis 5 tahun penjara, Adung Syafei sebagai kondektur KA 225 divonis 2 tahun 6 bulan penjara, sementara Umrihadi sebagai PPKA Kebayoran Lama divonis 10 bulan penjara. Ketiga pegawai tersebut juga diganjar dengan surat pemecatan dari posisi masing-masing yang ditandatangani oleh Menteri Perhubungan yang menjabat pada saat itu, meskipun Slamet yang sudah mengabdi selama lebih dari 20 tahun sebagai masinis dan Adung tetap berpendirian bahwa mereka berada pada posisi sebagai korban kesalahan prosedur yang dilakukan PPKA Kebayoran Lama.

7. Dampak Terhadap Masyarakat Umum dan Perkeretaapian Nasional

Kecelakaan 2 rangkaian KA di Bintaro ini juga membuat media massa luar negeri membuat tulisan-tulisan beserta artikel mengenai pentingnya standar keamanan dan keselamatan dalam pengoperasian sarana perkeretaapian, sekaligus juga menginspirasi sejumlah musisi besar (Ebiet G. Ade & Iwan Fals) dalam lagu-lagu ciptaan mereka dan salah satu produser film (Bruce Malawau) untuk membuat versi layar lebar kecelakaan ini yang disusun berdasarkan tinjauan di mata masyarakat.

Kecelakaan ini juga sempat menggulirkan wacana pembangunan jalur ganda antara stasiun Tanah Abang hingga stasiun Serpong untuk menghindari benturan head-to-head, meskipun wacana tersebut baru benar-benar terlaksana pada 2007. Selain itu, prosedur-prosedur tambahan dalam memberangkatkan rangkaian KA pun mulai diterapkan pada lintas-lintas yang masih menggunakan lajur tunggal berikut wacana penggunaan sistem persinyalan elektrik untuk lintas dengan jumlah lalu lintas KA yang padat. Untuk kelancaran komunikasi antara masinis dengan petugas di stasiun, pihak PJKA mulai melakukan instalasi dan perluasan penggunaan sistem radio di semua lokomotif yang siap operasi, berikut penertiban pengguna yang masih nekat naik di lokomotif mengingat KA 225 yang terlibat kecelakaan berada pada kondisi penumpang yang tidak sewajarnya.

Sayangnya, seperti tidak belajar dari kasus kecelakaan ini, 13 tahun kemudian pada masa pengelolaan Perumka (Perusahaan Umum Kereta Api) kecelakaan dengan urutan kejadian yang serupa terulang kembali namun terjadi di antara stasiun Sudimara dan stasiun Serpong (akan dibahas pada kesempatan lain). Beberapa kecelakaan KA lainnya yang juga dikaitkan dengan peristiwa kecelakaan ini pun terus bermunculan di masa pengelolaan PT. Kereta Api Indonesia (Persero), di antaranya adalah kecelakaan KA di stasiun Petarukan yang melibatkan KA 116 Senja Utama Bisnis dengan KA 4 Argo Anggrek Malam, kecelakaan KA kontainer Antaboga dengan KA Rajawali di sekitar stasiun Kapas, Bojonegoro serta yang paling baru adalah kecelakaan 2 KA babaranjang pengangkut batubara di Sumatera Selatan.

Demikianlah tulisan ini penulis berikan sebagaimana mestinya, semoga bermanfaat bagi seluruh pembaca sekalian.

Sumber dokumentasi pra kecelakaan: M. Lutfi Tjahjadi
Sumber dokumentasi pasca kecelakaan: Hasan Starr (grup RAILFANS INDONESIA)

2013-07-15

Tokyu 8590 Oimachi Line: Mutasi ke Toyama Chiho Railway - 東急8590系大井町線: 富山地方鉄道へ甲種輸送

Pada kesempatan ini penulis kembali memberitahukan proses mutasi rangkaian antar operator KA di Jepang, yang mana terjadi antara Tokyu Corporation dengan Toyama Chiho Railway.

Seri 8590 yang beroperasi di lintas Oimachi dengan 5 unit kereta per rangkaian sendiri telah habis masa operasinya bersama-sama dengan seri 8090 sejak seluruh seri 9000 dioptimalkan khusus untuk operasi di lintas tersebut, sehingga dimungkinkan untuk ditransfer ke operator lain atau dirucat sebagaimana nasib dari rangkaian seri 8090 yang tersisa. Dalam hal ini, Toyama Chiho Railway atau dikenal juga dengan Chitetsu (地鉄), sebuah operator kereta api yang berasal dari prefektur Toyama telah menjalin kerja sama untuk mentransfer kepemilikan rangkaian seri 8590 tersebut dari Tokyu Corporation sebagai pemilik asal seluruh seri 8590.

Rangkaian 8590 yang dikirim memiliki nomor seri 8692F dan 8693F, yang kemudian sebanyak 2 unit kereta dari 8692F bersama 3 unit kereta dari 8693F digandengkan bersama dalam 1 rangkaian dan dikirimkan menggunakan lokomotif JR Freight seri EH 200 sebagai penarik, di mana sisa unit yang tidak ikut dialihkan ditinggalkan di dipo Nagatsuta. Seluruh unit yang dikirim tersebut sudah tak lagi terpasang nomor unit setiap kereta maupun logo Tokyu Corporation, hanya menyisakan logo lintas Oimachi pada unit kereta tengah berpantograf, layar penampil jurusan model manual bertuliskan "Not In Service" dan corak warna khas lintas asalnya.

Rincian unit yang ditransfer adalah sebagai berikut:
  • 8692F
Unit ditransfer: DeHa (デハ) 8692 (M2C) - DeHa (デハ) 8592 (M1C, dengan pantograf)

Unit lainnya (tertinggal): DeHa (デハ) 8197 (M1, dengan pantograf), SaHa (サハ) 8394 (T), DeHa (デハ) 8297 (M2)
  • 8693F
Unit ditransfer: DeHa (デハ) 8693 (M2C) - DeHa (デハ) 8181 (M1, dengan pantograf)** - DeHa (デハ) 8593 (M1C, dengan pantograf)

Unit lainnya (tertinggal): SaHa 8396 (T), DeHa 8281 (M2)

** = kemungkinan besar tidak digunakan sebagai unit utama/部品取り用車

Formasi saat pengiriman: EH 200 (2 unit) - DeHa 8693 - DeHa 8181 - DeHa 8593 - DeHa 8692 - DeHa 8592

Berikut ini gambaran proses pengiriman seri 8590 eks lintas Oimachi:

 8692F & 8693F, dipo Nagatsuta
8692F & 8693F、長津田検車区

 
Eks Tokyu Corporation seri 8590 lintas Oimachi
元東急8590系大井町線

Hingga saat tulisan ini dimuat, penulis masih menunggu kabar pasti mengenai kelanjutan transfer seri 8590 ini, termasuk yang masih beroperasi di lintas Den-en-toshi sebanyak 2 rangkaian dengan formasi 10 unit kereta per rangkaian.

Menurut referensi lain yang diperoleh rekan penulis, seri 8590 ini di kemudian hari akan dikenal sebagai Toyama Chiho Railway seri 17300 (17300形) dengan formasi 2 unit kereta per rangkaian, di mana diperkirakan akan mulai melakukan debut operasi pada bulan September mendatang.

Demikianlah informasi transfer rangkaian ini penulis berikan sebagaimana mestinya, semoga bermanfaat.

Sumber gambar/画像原因 : Photoframe 2013

Referensi lain: Toyama Chiho Press Release (PDF) 

2013-07-14

[Pengumuman] Penentuan Nama dan Informasi Rute Monorail Jakarta

Pada kesempatan ini, penulis memberitahukan bahwa telah terpilih nama resmi untuk monorel Jakarta melalui proses kontes penamaan yang dilakukan sejak beberapa bulan yang lalu, yang mana diumumkan dalam penutupan pameran monorel yang dilaksanakan hari ini (14 Juli 2013).

Berdasarkan total 13.000 usulan nama unik yang masuk sebagai pertimbangan bagi Ortus Holdings Ltd. dan PT. Jakarta Monorail, yaitu investor yang mendanai pembangunan proyek transportasi massal ini, terdapat satu nama yang memperoleh suara terbanyak berdasarkan sistem pemungutan suara, yaitu Jakarta Eco Transport Monorail atau disingkat dengan sebutan JET.

Nama yang diberikan tersebut memperoleh 4.453 suara dari total hampir 150.000 suara yang berasal dari pengunjung situs PT. Jakarta Monorail selaku penyelenggara resmi kontes penamaan monorel Jakarta. Dengan dipilihnya nama resmi ini, maka jenis mode angkutan massal ini segera dipersiapkan untuk peresmian operasional perdananya secara menyeluruh yang direncanakan akan dilakukan pada tahun 2016, di mana pembangunan sarana maupun prasarana pendukung akan dimulai kembali pada bulan Oktober mendatang.

Sebagai informasi tambahan, rute monorel Jakarta yang telah disepakati oleh PT. Jakarta Monorail memiliki dua jenis jalur yaitu jalur hijau (green line) dan jalur biru (blue line). Kedua jalur tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Jalur biru dimulai dari stasiun Kampung Melayu - Tebet - Dr. Sahardjo - Menteng Dalam - Casablanca - Ambassador - Dharmala Sakti - Menara Batavia - Karet - Kebon Kacang - Tanah Abang - Cideng dan berakhir di Roxy. Panjang rute keseluruhan adalah 9,725 km dengan total 11 stasiun tengah dan 2 stasiun terminus (stasiun ujung).
  2. Jalur hijau (lingkar) dimulai dari stasiun Komdak - Kusuma Candra - Bursa Efek Jakarta - Stadion Gelora Bung Karno - Plaza Senayan - Studio TVRI - Taman Ria Senayan - Gedung MPR/DPR - Pejompongan - Karet - Sudirman - Setiabudi Utara - Kuningan Sentral - Taman - Rasuna Said - Casablanca - Grand Melia dan berakhir di Satria Mandala. Panjang rute keseluruhan adalah 14,275 km dengan total 16 stasiun tengah dan 2 stasiun terminus.

Saat ini, pembangunan mode transportasi monorel di Jakarta masih pada tahap pra-konstruksi atau peninjauan kembali lokasi pembangunan di lapangan, mengingat kondisi terkini lokasi pembangunan yang direncanakan memiliki banyak perbedaan dengan draf dasar rancangan sistem monorel yang telah disusun beberapa tahun yang lalu.

Demikian informasi yang penulis sampaikan kali ini, semoga bermanfaat.

Referensi: Kompas Media

Tulisan terkait: [Laporan] Pameran Monorail Jakarta

Tokyo Metro 05 Batch 1: Mutasi ke Jalur Cabang Chiyoda - 東京メトロ05系初期編成: 千代田支線へ甲種輸送

Pada kesempatan kali ini penulis akan memberikan tulisan tentang proses mutasi sisa rangkaian Tokyo Metro seri 05 batch awal atau batch 1 dari lintas Tozai ke lintas Chiyoda, lebih tepatnya jalur cabang Chiyoda antara stasiun Kita-ayase dan Ayase.

Sebelum berlanjut ke inti pembahasan, penulis perlu memberitahukan bahwa inilah jawaban dari berbagai pertanyaan yang masuk ke meja penulis tentang "mengapa sisa rangkaian seri 05 tersebut tidak ikut dikirimkan bersama rangkaian lainnya untuk dioperasikan di Jabodetabek", yang disebabkan karena faktor kehandalan rangkaian 3 kereta seri 5000 berbodi alumunium dan seri prototipe 6000 yaitu 6000-1 di lintas cabang Chiyoda yang menjadi tujuan pengiriman.

Seperti yang telah diketahui, rangkaian batch 1 pintu standar dengan nomor seri 02F, 04F, 05F, 07F, 08F, 09F, 10F dan 12F telah dikirim dalam beberapa gelombang pengiriman ke Jakarta, yang mana menyisakan rangkaian 01F, 03F, 06F dan 13F (11F telah dirucat lebih dulu sebelum 02F dan 07F mulai dikirim). Keempat rangkaian ini selanjutnya sempat tidak dioperasikan selama beberapa waktu lamanya pasca dilepasnya 04F, 05F dan 12F.

Akan tetapi, pada bulan Mei yang lalu, penulis menerima kabar yang menyatakan bahwa keempat rangkaian yang tersisa tersebut satu demi satu dipotong menjadi formasi 3 unit kereta per rangkaian, di mana unit 05-300 hingga 05-900 dirucat sehingga menyisakan unit 05-100 (CT1), 05-200 (M1, dengan pantograf) dan 05-000 (CT2).

Dari keempat unit tersebut, unit 06F dan 13F dikirimkan terlebih dahulu ke dipo Ayase pada awal bulan ini dengan bantuan salah satu rangkaian Tokyo Metro 15000 di stasiun Nakano, di mana dari stasiun Nakano rangkaian 06F yang digandengkan bersama 13F dijalankan menuju stasiun Ayase di lintas Chiyoda melalui lintas JR East Musashino dengan lokomotif listrik EF 65 2070 dan disambung oleh lokomotif diesel DE 10 1189, yang keduanya adalah milik JR Freight. Di stasiun Ayase, rangkaian 05 tersebut dimasukkan ke dalam lingkungan dipo dengan memanfaatkan salah satu rangkaian Tokyo Metro 16000 sebagai pendorong.

Proses pengiriman sendiri diupayakan sedemikian agar tidak mengganggu jadwal operasional KRL di lintas yang dilalui selama pengiriman berlangsung.

Berikut ini adalah gambaran seri 05 formasi 3 kereta yang siap dikirimkan:

Seri 05 rangkaian 06F & 13F formasi 3 kereta, sebelum dikirimkan
05系06Fと13F 3両編成 (深川検車区にで

Hingga saat tulisan ini dimuat, penulis masih menunggu kepastian kabar rangkaian seri 5000 alumunium dan prototipe seri 6000 yang sudah cukup lama beroperasi di lintas cabang Chiyoda, juga waktu di mana rangkaian 05 tersebut mulai beroperasi pada alokasi lintas yang baru.

Demikianlah informasi ini penulis sampaikan, semoga bermanfaat.

Sumber gambar/画像原因: WaSaFu 8000

2013-07-11

Visual Novel Songs: monochrome (Konata yori Kanata made II Opening Theme | こなかなII OP歌曲)

This time I got an easy-listening song from the opening theme of "Konata yori Kanata made II" visual novel. For some reasons, I decided to give you romaji and translation lyrics (maybe for the English translation I had done some mistakes, CMIIW) of this song in one row.

Enjoy the theme song and the game too V(@^_^@)V

Note: I still provide romaji system to help you learn reading Japanese characters correctly, since some characters have different usage and reading methods depending on sentence model that using them.


video

monochrome
Konata yori Kanata made II Opening Theme


Vocal & Lyrics: KOTOKO
Composer & Arranger: C. G mix


冬の空
Fuyu no sora
On the winter sky

重なる白と黒 雪と闇
Kasanaru shiro to kuro yuki to yami
When the white and black, snow and darkness overlap each other 

隙間から見えてたはずのオリオン
Sukima kara mieteta hazu no orion 
Orion would have visible from the crevice

かき消された
Kakikesareta 
That broken out already


限りある場所
Kagiri aru basho 
The finite places

全部奪い合って
Zenbu ubaiatte
All of them are to struggle for

無形の時 抱きしめようともがいた
Mukei no toki dakishime yō to mo ga ita 
When the intangible forces embrance together


ごめんね
Gomen ne
Sorry for

”キミノタメニナニガデキルノダロウカ・・・?” と
"Kimi no tame ni nani ga dekiru no darō ka?" to 
"What I should be for you" and

余計な文字増やす 僕の思考回路
Yokei na moji fuyasu boku no shikō kairo 
The abundant letters augmented my feelings

降り注ぐは全て優しさと受け入れたなら
Furisosogu wa subete yasashisa to ukeireta nara 
So then incessant tenderness come if you accept it

この空は永遠と繋がるのだろう
Kono sora wa eien to tsunagaru no darō 
The sky will be tied together forever

凍てついたあの幻のように
Itetsuita ano maboroshi no yō ni 
As frozen visions


傷ついた君の目にいつかの僕を見た
Kizutsuita kimi no me ni itsuka no boku o mita 
Someday on your wounded eyes I see


淋しげに睨み返すあの子も ”同じ” かもね・・・
Sabishige ni nirami kaesu ano ko mo "onaji" kamo ne... 
The child that return glare to loneliness maybe also "the same one"


孤独と孤独
Kodoku to kodoku  
Solitude and loneliness

そっと繋いだまま
Sotto tsunaida mama 
While I fastened them quietly

救いの無い永遠の世界 選んだ
Sukui no nai eien no sekai eranda 
I chose the world of eternity without any help


ごめんね
Gomen ne 
Sorry for

君が探す愛を 答えに出来なくて
Kimi ga sagasu ai o kotae ni dekinakute 
Impossible to answer the love that you should see

口を閉ざす僕を どうか許さないで
Kuchi o tozasu boku o dōka yurusanai de 
Please don't allow me to close my mouth somehow


繰り返す痛みが君の頬 凍らせるなら
Kurikaesu itami ga kimi no hoho kōraseru nara 
The sore feeling continues if your cheek frozen

”オワラセテ”
"Owarasete"  
"To end that"

力なく そう願ってた
Chikara naku sō negatteta 
The powerless desire

「離さない」 なぜか言えないまま
[Hanasanai] naze ga ienai mama 
Just "keep" it and don't say for any reason  


ごめんね
Gomen ne
Sorry for

君が流す涙 うまく拭えなくて
Kimi ga nagasu namida umaku nuguenakute
I can't wipe out tears you have shed well 

もうここから消え去れ!
Mō koko kara kiesare!
Please bring them out from here!

僕の思考回路
Boku no shikō kairo
From my feelings




凍てつく夜(よ)に佇む君を見つけられた今
Itetsuku yo ni tatazumu kimi o mitsukerareta ima
Now we found each other stand still on the freezing cold night

終わらない運命(さだめ) と僕は結ばれよう
Owaranai sadame to boku wa musubare yō
I will bind to endless fate

モノクロに煌く空の下
Monokuro ni kirameku sora no shita
Under the monochrome glare sky


本当の永遠を誓って
Hontō no eien o chikatte
So that the swear goes real forever

2013-07-04

[Informasi] Perubahan Tarif Kereta Api Penumpang Kelas Ekonomi

Berdasarkan pada informasi yang penulis peroleh di mana menunjuk kepada kontrak penyelenggara kewajiban pelayanan publik (Public Service Obligation, PSO) bidang angkutan kereta api pelayanan kelas ekonomi pada tahun anggaran 2013 antara Ditjen Perkeretaapian dengan PT. Kereta Api Indonesia (Persero) tertanggal 18 Juni 2013, bahwa untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, PT. Kereta Api Indonesia (Persero) sedang meningkatkan basic comfort atau Standar Pelayanan Minimum (SPM) untuk semua kereta penumpang kelas ekonomi jarak jauh, menengah maupun jarak dekat dengan menambahkan fasilitas AC atau pendingin udara di setiap unit kereta.

KA dengan relasi jarak dekat berikut ini tidak mengalami perubahan tarif meskipun telah menggunakan fasilitas AC:

  • KA Banten Ekspres relasi Merak-Tanah Abang, tarif Rp 5.000,-
  • KA Krakatau Ekspres relasi Tanah Abang-Merak, tarif Rp 5.000,-
  • KA Cilamaya Ekspres (Patas Purwakarta) relasi Purwakarta-Jakarta Kota, tarif Rp 3.000,-
  • KA Ekonomi Lokal Rangkasbitung relasi Tanah Abang-Rangkasbitung, tarif Rp 2.000,-
  • KA Ekonomi Lokal relasi Parungpanjang-Tanah Abang, tarif Rp 1.500,-
  • KA Ekonomi Lokal Jatiluhur relasi Jakarta Kota-Purwakarta pp, tarif Rp 3.000,-
  • KA Ekonomi Lokal Jatiluhur relasi Jakarta Kota-Cikampek, tarif Rp 2.500,-
  • KA Ekonomi Lokal relasi Purwakarta-Cibatu, tarif Rp 3.500,-
  • KA Ekonomi Lokal Bandung Raya relasi Kiaracondong-Cicalengka, tarif Rp 1.000,-
  • KA Ekonomi Lokal Bandung Raya relasi Cicalengka-Padalarang, tarif Rp 1.500,-
  • KA Penataran relasi Surabaya Kota-Malang-Blitar, tarif Rp 5.500,-
  • KA Dhoho relasi Blitar-Kertosono-Surabaya Kota, tarif Rp 5.500,-
  • KA Penataran relasi Malang-Surabaya Gubeng, tarif Rp 4.000,-
  • KA Ekonomi Lokal relasi Surabaya Pasar Turi-Bojonegoro, tarif Rp 3.000,-
  • KA Ekonomi Lokal relasi Surabaya Kota-Kertosono, tarif Rp 2.000,-
  • KA Ekonomi Lokal relasi Kalibaru-Banyuwangi, tarif Rp 3.500,-
  • KA Pandanwangi relasi Banyuwangi-Jember, tarif Rp 4.000,-
  • KA Probowangi relasi Probolinggo-Banyuwangi, tarif Rp 18.000,-
  • KA Sibinuang relasi Pariaman-Padang, tarif Rp 2.500,- (Divre II Sumatera Barat)
  • KRD Komuter relasi Surabaya Kota-Porong, tarif Rp 2.000,-
  • KRD Komuter relasi Surabaya Kota-Lamongan, tarif Rp 2.000,-
  • KRDI Seminung relasi Kotabumi-Tanjungkarang, tarif Rp 7.500,-
  • KRL non AC khusus Jabodetabek berlaku s/d 31 Agustus 2013 rerata tarif Rp 1.000,- s/d Rp 2.000,- *)

Tarif KA ekonomi jarak jauh dan menengah di bawah ini berlaku untuk pemesanan tiket yang dimulai pada tanggal 5 Juli 2013 untuk keberangkatan per tanggal 1 September 2013.

  • KA Logawa, tarif Rp 50.000,- **)
  • KA Kertajaya, tarif Rp 50.000,- **)
  • KA Brantas, tarif Rp 55.000,- **)
  • KA Kahuripan, tarif Rp 50.000,- **)
  • KA Kutojaya Utara, tarif Rp 40.000,- **)
  • KA Bengawan, tarif Rp 50.000,- **)
  • KA Progo, tarif Rp 50.000,- **)
  • KA Pasundan, tarif Rp 55.000,- **)
  • KA Sri Tanjung, tarif Rp 50.000,- **)
  • KA Gaya Baru Malam Selatan (GBMS), tarif Rp 55.000,- **)
  • KA Matarmaja, tarif Rp 65.000,- **)
  • KA Tawang Jaya, tarif Rp 45.000,- **)
  • KA Serayu, tarif Rp 35.000,- **)
  • KA Kutojaya Selatan, tarif Rp 35.000,- **)
  • KA Tegal Arum, tarif Rp 25.000,- **)
  • KA Tawang Alun, tarif Rp 30.000,- **)
  • KA Rajabasa, tarif Rp 30.000,- (Divre III Sumatera Selatan) **)
  • KA Bukit Serelo, tarif Rp 30.000,- (Divre III Sumatera Selatan) **)
  • KA Puteri Deli, tarif Rp 20.000,- (Divre I Sumatera Utara) **)
  • KA Siantar Ekspres, tarif Rp 20.000,- (Divre I Sumatera Utara) **)
  • KA Madiun-Tanah Abang (MANTAB) fakultatif, tarif Rp 55.000,-
  • KRDE Prameks AC (Sri Wedari), tarif Rp 16.000,-
*) layanan telah dihapus per Agustus 2013, digantikan seluruhnya oleh AC Commuter Line bertarif progresif
**) mengalami perubahan tarif per tanggal 1 Januari 2014 (lihat keterangan tambahan)
  
Keseluruhan tarif yang telah disebut di atas berlaku untuk satu kali perjalanan, relasi yang dinyatakan untuk setiap KA berlaku untuk kedua arah.

Demikianlah informasi yang dapat penulis sampaikan pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat.

Keterangan tambahan pemutakhiran/update per 7 November 2013:

Sehubungan dengan belum disepakatinya kontrak untuk layanan kereta api penumpang kelas ekonomi, beberapa jenis kereta api kelas ekonomi jarak jauh dan menengah mengalami perubahan tarif yang berlaku untuk keberangkatan mulai tanggal 1 Januari 2014.

Informasi tentang perubahan tarif beberapa jenis KA ekonomi jarak jauh dan KA ekonomi jarak menengah dapat dibaca pada tulisan berikut ini:


Ketentuan tarif yang telah disebutkan demikian berlaku sampai ada perubahan berikutnya dari pihak PT. Kereta Api Indonesia (Persero).